Landasan udara perintis di Nduga, Selasa (21/4) lalu, menyaksikan sebuah pemandangan yang dalam. Bukan hanya soal pesawat yang mendarat, tapi lebih tentang solidaritas yang nyata. Di sana, prajurit Satgas Yon Parako 466 Pasgat dan warga setempat bergotong royong mengevakuasi jenazah yang baru saja tiba.
Suasana hening, khidmat. Dari badan pesawat kecil, sebuah peti terbungkus terpal biru dan lakban cokelat diturunkan dengan penuh kehati-hatian. Prosesnya sederhana, tapi terasa sangat hormat. Yang menarik, tak ada jarak sama sekali antara seragam hijau TNI dan warga biasa. Mereka berbaur. Para prajurit yang berjaga langsung turun tangan, membantu keluarga yang berduka dan warga lainnya tanpa dikomando.
Bersama-sama, mereka menggotong peti itu. Dari pintu pesawat, langkah demi langkah, menuju kendaraan yang sudah menunggu.
Di sisi lain, puluhan warga sudah memadati sekitaran landasan. Mereka datang untuk menyambut. Beberapa di antaranya bahkan membawa karangan bunga, tanda belasungkawa yang tulus di tengah keterpencilan Papua ini. Sebuah adat yang tetap hidup.
"Dapat membantu warga seperti ini sangat berarti bagi kami," ujar Danpos Satgas, Lettu Pas Richo Hamdan.
Menurutnya, kehadiran TNI di daerah terpencil seperti Nduga punya makna ganda. Bukan cuma soal keamanan, tapi juga sebagai bentuk bantuan nyata bagi masyarakat. "Di daerah terpencil seperti ini, transportasi udara adalah urat nadi. Kehadiran kami diharapkan bisa mempermudah kegiatan warga," tambahnya.
Setelahnya, peti jenazah diangkat lagi, kali ini ke dalam ambulans yang akan membawanya ke rumah duka. Semua berjalan lancar. Aman. Penuh dengan rasa hormat yang terpancar dari setiap gerakan. Kerja sama antara prajurit dan warga yang begitu natural, begitu manusiawi.
Pada akhirnya, momen ini bicara lebih keras dari sekadar tugas rutin. Ia menegaskan sesuatu yang mendasar: di Nduga, di balik tugas menjaga stabilitas, TNI berusaha menyatu dengan denyut nadi kehidupan warganya. Dalam suka, dan lebih-lebih dalam duka seperti ini. Sebuah kemanunggalan yang tidak perlu diucapkan, karena langsung terlihat dan terasa.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Dapat Apresiasi PM Australia Atas Ekspor Pupuk Urea 250 Ribu Ton
China Siapkan Rp1,4 Triliun untuk Bangun Industri Hilir Unggas di Aceh
Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang atas Permintaan Pakistan, Blokade Tetap Berjalan
Iran Tegas: Tak Ada Perundingan dengan AS Selama Blokade Pelabuhan Berlanjut