Wall Street Anjlok Diterjang Data Buruk dan Ancaman Perang di Timur Tengah

- Jumat, 06 Maret 2026 | 23:40 WIB
Wall Street Anjlok Diterjang Data Buruk dan Ancaman Perang di Timur Tengah

Wall Street kembali berwarna merah pekat di pembukaan Jumat (6/3/2026). Sentimen negatif datang bertubi-tubi, menekan indeks utama ke level terendah. Dua faktor utama jadi biang kerok: data ketenagakerjaan AS yang jauh meleset dan ancaman geopolitik yang mendorong harga minyak melambung tinggi.

Sekitar pukul setengah sepuluh pagi waktu New York, Dow Jones Industrial Average sudah anjlok 1,7 persen ke level 47.132,82. Indeks S&P 500 tak kalah parah, turun 1,4 persen. Sementara Nasdaq Composite, barometer saham teknologi, merosot 1,5 persen. Pelemahan ini melanjutkan tren buruk dari sesi sebelumnya.

Semuanya berawal dari kekacauan di Timur Tengah. Konflik yang meluas ke Teluk Persia telah memicu kepanikan di pasar energi. Minyak mentah AS melonjak hampir 21 persen dalam sepekan, imbas dari serangan AS-Israel ke Iran yang mengancam pasokan melalui Selat Hormuz yang vital itu.

Dampaknya langsung terasa. Harga bensin rata-rata di AS langsung naik 27 sen, menurut data AAA yang dilansir Reuters. Ini jelas jadi mimpi buruk bagi The Fed. Inflasi yang susah payah dikendalikan, tiba-tiba terancam oleh gejolak harga energi. Perusahaan dan konsumen pun bakal merasakan tekanannya.

Dan situasinya tak tampak akan mereda. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Kamis malam, dengan nada tegas menyatakan bahwa daya tembak di Iran akan "meningkat secara dramatis".

Israel pun tak tinggal diam, mengklaim telah melancarkan serangan "berskala luas" ke infrastruktur di Teheran pada Jumat pagi.

p>Presiden Donald Trump juga ikut bersuara. Dalam wawancara telepon dengan Reuters, ia menyebut AS harus punya peran menentukan siapa pemimpin Iran berikutnya. Pernyataan itu mengisyaratkan keterlibatan AS yang berlarut-larut.

Tak lama setelahnya, lewat unggahan di Truth Social, pesannya lebih keras lagi. "Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali penyerahan tanpa syarat!" tulis Trump. Ia menambahkan, setelah itu AS dan sekutunya akan bekerja untuk "membawa Iran kembali dari ambang kehancuran."

Di sisi lain, laporan ketenagakerjaan AS untuk Februari justru mengecewakan. Alih-alih bertambah, ekonomi AS malah kehilangan 92.000 pekerjaan. Angka ini sangat kontras dengan ekspektasi para ekonom yang memprediksi penambahan 58.000 lapangan kerja. Tingkat pengangguran pun merangkak naik jadi 4,4 persen.

Yang bikin runyam, data bulan-bulan sebelumnya juga direvisi ke bawah. Januari yang tadinya 130.000, dikoreksi jadi 126.000. Desember 2025 malah berubah dari pertumbuhan 48.000 menjadi penurunan 17.000. Laporan ini jelas mempersulit tugas The Fed.

Samuel Tombs, kepala ekonom AS di Pantheon Macroeconomics, melihat sedikit celah terang. "Tidak ada kabar baik dari laporan pekerjaan ini," katanya. Ia mengakui ada faktor teknis seperti pemogokan yang memengaruhi, tapi intinya tetap suram. "Revisi memperburuk gambaran," tambahnya.

Reaksi pasar pun cepat. Pedagang segera meningkatkan taruhan untuk pemotongan suku bunga The Fed, berharap bank sentral akan bertindak menopang ekonomi.

Data lain yang dirilis Jumat, penjualan ritel Januari, turun 0,2 persen. Angka ini sedikit lebih baik dari perkiraan, tapi komponen intinya datar lagi-lagi di bawah ekspektasi.

Jadi, Jumat itu Wall Street terjepit. Di satu sisi, perang dan minyak mahal bikin inflasi waspada. Di sisi lain, pasar tenaga kerja yang lesu berteriak minta stimulus. Investor seperti dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama pahit.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar