Wall Street mencatat penurunan terburuk dalam lebih dari setahun pada Jumat lalu, dengan indeks NASDAQ yang didominasi saham teknologi ambles hingga 4,2 persen. Kejatuhan ini dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat setelah laporan ketenagakerjaan bulan Mei melampaui ekspektasi, sekaligus memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS justru akan menaikkan suku bunga, bukan memangkasnya.
Indeks S&P 500 terkoreksi 2,6 persen ke level 7.384,59 poin, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 1,4 persen ke 50.866,78 poin. NASDAQ menjadi yang paling terpukul dengan anjlok 4,2 persen ke 25.709,43 poin kinerja harian terburuk sejak awal April 2025. Tekanan jual menyasar saham-saham teknologi dan produsen chip yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah lapangan kerja di sektor non-pertanian bertambah 172 ribu pada Mei, jauh di atas perkiraan pasar yang hanya sebesar 85 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,3 persen. Revisi data untuk Maret dan April juga menunjukkan tambahan 93 ribu pekerjaan lebih tinggi dari laporan sebelumnya.
Kuatnya pasar tenaga kerja ini muncul di tengah tekanan harga yang masih tinggi, terutama akibat harga minyak yang terus melambung. Para pelaku pasar menilai kondisi tersebut menghilangkan urgensi bagi Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter. Sebaliknya, spekulasi kenaikan suku bunga justru menguat. Berdasarkan alat CME FedWatch, kenaikan suku bunga seperempat poin kini sudah diperhitungkan penuh pada akhir tahun, bahkan terdapat peluang tujuh persen untuk kenaikan tambahan.
“Beberapa bulan lalu, opini yang berlaku adalah bahwa Federal Reserve akan menghadapi dilema yang tidak nyaman antara dua mandatnya. Laporan hari ini menghilangkan konflik tersebut. Jika pasar tenaga kerja kuat dan kebuntuan di Selat Hormuz terus menekan harga, itu menghilangkan hambatan untuk kenaikan suku bunga,” ujar Steve Sosnick, Kepala Strategi di Interactive Brokers.
Menurut Sosnick, harga kontrak berjangka Fed Funds pada Kamis masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga hingga Desember sebesar 67 persen. Namun, sehari setelah data pekerjaan dirilis, angka tersebut melonjak menjadi 100 persen plus tambahan tujuh persen untuk kenaikan kedua. “Hal ini meningkatkan suku bunga Fed Funds efektif sekitar 11 basis poin, yang sepenuhnya tercermin dalam imbal hasil obligasi Treasury dua tahun,” katanya.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat instrumen utang menjadi kurang menarik, sehingga investor cenderung melepas obligasi dan beralih ke aset lain. Dolar AS pun menguat seiring ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Di sisi lain, tekanan terhadap pasar saham semakin berat, khususnya bagi saham teknologi yang sebelumnya menikmati reli luar biasa berbasis kecerdasan buatan.
Situasi geopolitik turut memperkeruh suasana. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Hizbullah menolak gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Kondisi ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan global, terutama karena berkaitan dengan pasokan energi dan stabilitas kawasan.
Laporan ketenagakerjaan ini juga dirilis di tengah masa transisi kepemimpinan Federal Reserve dari Jerome Powell kepada Kevin Warsh. Presiden Donald Trump sebelumnya berulang kali mendesak pemangkasan suku bunga sejak awal masa jabatannya. Namun, data ekonomi yang solid justru memperkuat argumen bagi bank sentral untuk mempertahankan sikap hawkish.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 8,69 Persen dalam Sepekan, Asing Catat Jual Bersih Rp3,73 Triliun
Hartadinata Abadi (HRTA) Bagi Dividen Rp184,21 Miliar, Laba Melonjak 121 Persen
PT Selamat Sempurna Tbk Bagikan Dividen Final Rp230,35 Miliar, Jadwal Cum Dividen 15 Juni 2026
Wall Street Melemah, Saham Teknologi Terkoreksi Imbas Data Tenaga Kerja AS Lebih Kuat dari Perkiraan