Suasana di perbatasan utara Israel terasa makin panas. Militer Israel baru-baru ini buka suara, menyebut semua opsi termasuk kemungkinan invasi darat ke Lebanon sedang dipertimbangkan. Ini adalah langkah tegas mereka untuk menjawab ancaman yang dinilai kian membesar dari kelompok Hizbullah.
Juru bicara militer Israel, Ephraim Defrin, dengan nada tegas menyatakan pihaknya sedang mematangkan berbagai skenario tempur.
"Kami sedang menyiapkan segala kemungkinan untuk menanggulangi serangan Hizbullah," ujarnya.
Pernyataan itu keluar tak lama setelah Kepala Staf mereka blusukan ke wilayah perbatasan dan konon sudah memberi lampu hijau untuk rencana operasi tersebut. Intinya, tujuan utama operasi militer ini adalah melumpuhkan kekuatan lawan dan menyingkirkan ancaman bagi warga Israel, terutama yang tinggal di kawasan utara.
Lantas, apa pemicu ketegangan kali ini? Semua berawal dari serangan udara Israel ke Lebanon Selatan dan pinggiran selatan Beirut, yang terjadi Senin lalu. Israel bilang, serangan itu cuma respons atas aksi Hizbullah yang lebih dulu menyerang.
Namun begitu, cerita dari kubu Hizbullah berbeda. Mereka bersikukuh bahwa serangan mereka adalah balasan. Balasan untuk tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah insiden pekan lalu yang mereka tuduh melibatkan Amerika dan Israel.
Akibatnya, situasi jadi berantai. Iran pun ikut meluncurkan serangan balasan, menyasar posisi Israel dan beberapa aset Amerika di sekitar Teluk. Kawasan yang sudah rentan ini seperti mendapat bahan bakar baru, dan semua mata kini tertuju pada langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Dua Pelaku Curanmor Bersenjata di Serang, Sita Dua Senjata Api Rakitan
S&P Global Ratings Proyeksikan Peringkat Utang Indonesia Stabil Hingga 2028
KRL Mati Listrik dan Terhenti di Perlintasan, Penumpang Kepanasan
Bank Mandiri Waspadai Tantangan Global dan Domestik Menjelang Paruh Kedua 2026