Tanpa kepergian seluruh pasukan Amerika dari Teluk, perdamaian mustahil tercipta. Begitulah pernyataan tegas yang dilontarkan Mohsen Rezaee, anggota dewan penasihat pemimpin tertinggi Iran. Rezaee, yang juga mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam, menegaskan bahwa konflik dengan AS takkan berakhir selama militer Amerika masih bercokol di kawasan itu.
Lebih dari itu, Teheran bakal menuntut ganti rugi penuh. Tuntutan itu mencakup semua kerusakan akibat agresi AS dan Israel. Jaminan keamanan yang kuat dari Washington juga menjadi syarat mutlak jika perang ini benar-benar ingin diakhiri.
"Kehadiran AS di Teluk Persia telah menjadi penyebab utama ketidakamanan selama 50 tahun terakhir," ujarnya dalam wawancara dengan televisi SNN Iran.
"Akhir perang juga ada di tangan kami."
Menurut Rezaee, Iran bahkan sudah berhasil "menghancurkan prestise Amerika". Dia yakin negaranya akan muncul dari konflik ini dengan kedudukan yang jauh lebih kuat di kawasan. Klaim ini disampaikan di tengah situasi yang suram.
Bagaimana tidak? Serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu menghantam keras. Mereka menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior. Di hari-hari awal kampanye militer, tragedi mengerikan terjadi. Sebuah rudal Tomahawk AS menghantam sekolah putri Shajarah Tayyebeh. Korban berjatuhan sedikitnya 175 nyawa melayang, dan kebanyakan adalah anak-anak. Data dari otoritas setempat menyebut total korban jiwa warga sipil telah melampaui 1.300 orang sejak serangan dimulai.
Di sisi lain, Israel justru bersikap sebaliknya. Militer mereka mengumumkan rencana untuk melanjutkan perang setidaknya tiga minggu ke depan, berkoordinasi dengan sekutu AS mereka.
“Kami memiliki ribuan target di depan mata,” kata juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, kepada CNN.
“Kami siap dengan rencana setidaknya hingga hari raya Paskah Yahudi, sekitar tiga minggu dari sekarang. Dan kami memiliki rencana yang lebih mendalam bahkan hingga tiga minggu setelah itu.”
Defrin menegaskan operasi mereka tidak terikat jadwal. Tujuannya jelas: melemahkan rezim Iran secara signifikan. Serangan kali ini, menurutnya, telah memicu perkembangan baru. Kelompok Hizbullah Lebanon akhirnya memutuskan untuk terjun ke dalam konflik, berbeda dengan perang singkat musim panas lalu.
“Dulu mereka paham itu operasi terbatas, jadi mereka tidak menyerang. Sekarang setelah semuanya terungkap, mereka ikut serta,” papar Defrin.
Jadi, sementara Iran menyerukan syarat-syarat perdamaian, pihak sebelah justru menyiapkan rencana eskalasi yang lebih panjang. Jarak pandang kedua belah pihak tampaknya masih sangat jauh.
Artikel Terkait
Persetujuan Publik terhadap Trump Anjlok ke 34 Persen, Terendah Sepanjang Masa Jabatan Kedua
Menlu Iran Akan ke Moskow Bahas Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan dengan AS
Perang Iran Kuras Persediaan Rudal AS, Picu Kekhawatiran Kerentanan Jangka Pendek
Indonesia Kaji Permintaan Akses Udara AS, Kemenlu Peringatkan Risiko Terseret Konflik