Olahraga telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern, mulai dari jalan kaki, lari, bersepeda, hingga latihan di pusat kebugaran. Di balik tren ini, aktivitas fisik ternyata menyimpan manfaat penting bagi daya tahan tubuh. Dokter umum sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa olahraga yang dilakukan secara rutin dapat membantu meningkatkan dan menstabilkan sistem imun.
Menurut dr. Tirta, tubuh yang memiliki imunitas stabil mampu mengendalikan peradangan secara lebih efektif saat menghadapi infeksi. “Ini membuat tubuh kita imunitasnya itu lebih stabil. Sehingga kita kalau kena virus atau bakteri, sistem peradangannya lebih terkontrol,” ujarnya.
Manfaat tersebut muncul karena tubuh mengalami proses adaptasi ketika seseorang rutin berolahraga. Adaptasi itu tidak hanya terjadi pada otot, tetapi juga pada jantung, sistem peredaran darah, metabolisme, hingga kemampuan tubuh dalam mengelola stres. “Ketika kita melatih otot fisik kita, itu terjadi perubahan adaptif yang terjadi di tubuh manusia. Jadi dari ototnya, dari jantungnya, peredaran darahnya, sistematika metaboliknya dan akhirnya stres manajemen yang lebih terkontrol. Nah, itu yang membuat imunitas orang-orang yang rajin olahraga itu sedikit lebih bagus dibandingkan orang yang mager,” kata dia.
Sementara itu, olahraga kini menjadi salah satu rekomendasi yang kerap diberikan dokter kepada pasien. Jika dahulu pasien hanya disarankan beristirahat, makan cukup, dan mengonsumsi obat, kini aktivitas fisik juga dianggap penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang. “Jadi kalau di zaman dulu kamu bagi pasien datang ke dokter kamu cuma bed rest ya kan makan yang banyak terus habis itu minum obat, sekarang ditambah rajin olahraga karena ada ikatan yang kuat dengan latihan fisik dengan imunitas yang kuat dan stabil,” jelas dr. Tirta.
Namun, ia menegaskan bahwa rajin berolahraga bukan berarti seseorang kebal terhadap penyakit. Orang yang aktif bergerak tetap dapat terinfeksi virus maupun bakteri, tetapi respons tubuh terhadap penyakit umumnya lebih terkendali. “Kamu olahraga tetap bisa kena DB, tetap. Jadi kita tetap akan kena infeksi, tapi reaksinya tidak sampai menimbulkan infeksi sistemik yang parah. Itu bedanya ada orang yang rajin olahraga. Misal dia kena demam, reaksi demamnya itu mungkin 37,5 derajat yaitu demam subfebris. Tidak separah orang-orang yang jarang olahraga,” ucap dia.
Di sisi lain, dr. Tirta mengingatkan masyarakat agar tidak berolahraga secara berlebihan, terutama bagi pemula. Aktivitas fisik yang melampaui kemampuan tubuh justru dapat berdampak negatif terhadap kesehatan. “Cuma ada nih garis bawahnya. Orang yang berlebihan olahraganya justru imunitasnya ngedrop. Sebab ada yang namanya CNS fatigue. Makanya disarankan kalau kamu tidak siap menjadi atlet, jangan ngikutin pola hidup atlet. Karena atlet tersebut diawasin, ada pelatih,” kata dia.
Oleh karena itu, olahraga sebaiknya dilakukan secara rutin dengan intensitas yang sesuai kondisi tubuh. Dengan pola latihan yang tepat, manfaat olahraga untuk menjaga imunitas dan kesehatan tubuh dapat dirasakan secara optimal.
Artikel Terkait
Kurang Tidur Kronis Tingkatkan Risiko Serangan Jantung dan Stroke, Kata Dokter
Muharram 1448 H Jatuh pada 16 Juli 2026, Ini Amalan Doa Akhir dan Awal Tahun
Guru Besar UI Ungkap Tiga Langkah Ilmiah Keluar dari Jerat Kecanduan Pornografi
Warga Jakarta Mulai Beli Lahan Makam Sejak Dini Demi Tak Membebani Anak