British Petroleum (BP) berencana melepas aset minyak dan gasnya di Laut Utara Inggris setelah mengelola kawasan tersebut selama lebih dari enam dekade. Langkah ini merupakan bagian dari perombakan besar portofolio bisnis yang diinisiasi oleh CEO baru, Meg O'Neill, dengan tujuan meningkatkan profitabilitas perusahaan.
Keputusan itu diumumkan sehari setelah Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyatakan pemerintah akan mengambil pendekatan pragmatis terhadap pengembangan sumber daya migas di Laut Utara. Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut kawasan itu akan kembali dibuka untuk pengembangan sektor migas.
O'Neill menegaskan bahwa Laut Utara tetap menjadi bagian penting dari sistem energi Inggris, tetapi BP kini mengarahkan investasinya ke proyek-proyek yang lebih menguntungkan. "Kami percaya bisnis Laut Utara akan berada pada posisi yang lebih baik sebagai bagian dari perusahaan lain, seiring kami memfokuskan portofolio dan mengalokasikan modal ke peluang dengan nilai tertinggi," ujarnya.
Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan energi besar seperti ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips, Shell, TotalEnergies, dan Eni juga telah mengurangi, menjual, atau menggabungkan aset mereka di Laut Utara. Penyebabnya adalah menurunnya produksi di kawasan tersebut serta munculnya peluang investasi yang lebih menarik di wilayah lain.
BP sendiri telah beroperasi di Laut Utara selama lebih dari 60 tahun dan mengelola lima pusat produksi utama, termasuk ladang minyak Clair yang merupakan ladang terbesar di landas kontinen Inggris. Pada 2025, aset di Laut Utara Inggris menyumbang sekitar 5 persen dari total produksi minyak dan gas BP, yakni sekitar 117.000 barel per hari dari total produksi global 2,3 juta barel setara minyak per hari.
Sebelumnya, BP telah menyepakati penjualan kepemilikannya di ladang gas Culzean, yang akan memangkas produksi perusahaan di Inggris sekitar 25.000 barel setara minyak per hari. Meski melepas bisnis hulu, BP memastikan tetap mempertahankan bisnis distribusi bahan bakar penerbangan, jaringan SPBU, aktivitas perdagangan energi, serta kantor pusatnya di London.
Saham BP tercatat naik sekitar 0,4 persen pada perdagangan Kamis pagi waktu setempat, sedikit di bawah kenaikan indeks saham perusahaan energi Eropa yang menguat sekitar 0,7 persen.
Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan
Pelaku industri menilai keputusan BP menjual aset utamanya itu dipengaruhi oleh kebijakan sektor minyak dan gas Inggris yang tidak konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan Norwegia yang memiliki kebijakan fiskal lebih stabil, Inggris beberapa kali mengubah rezim perpajakan sektor energi. Perusahaan migas menilai tingginya pajak dan ketidakpastian kebijakan membuat investasi di Laut Utara menjadi kurang menarik.
Kepala Aberdeen & Grampian Chamber of Commerce, Russell Borthwick, mengatakan keputusan BP menjadi bukti bahwa kepercayaan investor terhadap sektor minyak dan gas Inggris terus menurun. "Keputusan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap industri minyak dan gas di Laut Utara telah terguncang akibat ketidakpastian kebijakan dan beban pajak yang tinggi," ujarnya.
Sementara itu, Partai Buruh telah melonggarkan janji kampanyenya untuk menghentikan pemberian izin eksplorasi minyak dan gas baru. Menteri Energi Inggris, Miatta Fahnbulleh, juga menyatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan BP terkait rencana penjualan aset tersebut. BP menyatakan bisnisnya di Laut Utara mempekerjakan sekitar 1.100 karyawan, dari total sekitar 14.000 pekerja yang dimiliki perusahaan di Inggris.
Produksi Migas Inggris Terus Menurun
Produksi minyak dan gas di Laut Utara terus mengalami penurunan tajam. Secara keseluruhan, kawasan tersebut hanya memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari, jauh di bawah level sekitar 4,5 juta boed pada awal tahun 2000-an.
Di bawah kepemimpinan Meg O'Neill yang mulai menjabat pada April 2026, BP juga mempercepat upaya menekan utang dan kembali memfokuskan bisnis pada minyak dan gas setelah mengurangi investasi di sektor energi terbarukan. Perusahaan tersebut juga telah merombak struktur organisasinya dari tiga menjadi dua segmen bisnis, yakni upstream (hulu) dan downstream (hilir). Selain itu, berdasarkan memo internal yang diperoleh Reuters, BP juga berencana mengurangi sekitar 700 tenaga kerjanya sebagai bagian dari upaya efisiensi perusahaan.