WASHINGTON Perundingan damai di Islamabad akhir pekan lalu berakhir tanpa titik terang. Bagi banyak pengamat, kebuntuan ini justru mengirimkan sinyal keras: Iran tampaknya tak punya niat untuk menyerah di bawah tekanan Amerika Serikat. Poin-poin utama, terutama soal program nuklir, tetap jadi ganjalan yang tak terpecahkan.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik meja perundingan itu? Seorang mantan diplomat AS, Chas Freeman, punya pandangan yang cukup tajam. Dalam wawancaranya dengan RIA Novosti, ia menyebut pertemuan itu sama sekali bukan negosiasi.
"Ini bukan negosiasi, melainkan penyampaian ultimatum AS. AS menuntut agar Iran menyerah di meja perundingan atas apa yang telah ditolaknya di bawah tekanan militer terberat yang bisa dikerahkan Israel dan Amerika," ujar Freeman, Jumat lalu.
Menurutnya, AS datang dengan keyakinan yang keliru.
Mereka berpikir, pihak yang bisa mengancam kehancuran terbesar akan otomatis menjadi pemenang. Posisi itu membuat delegasi pimpinan Wakil Presiden JD Vance merasa bisa terus mendesak Iran. Namun kenyataannya, kata Freeman yang pernah menjabat Asisten Menteri Pertahanan ini, perang adalah soal perebutan kehendak. Bagi Teheran, ini adalah ancaman eksistensial. Bagi Washington? Tidak.
“Kegagalan pembicaraan di Islamabad sudah menjadi takdir. Tim AS memiliki banyak koneksi politik tapi kurang pengalaman dan keahlian. Sebaliknya, delegasi Iran terdiri dari diplomat berpengalaman dan ahli teknis,” paparnya.
Alhasil, Iran tetap teguh. Gencatan senjata yang diumumkan awal pekan, dalam pandangannya, masih bersifat semu. "Perang berlanjut," tegas Freeman.
Pembicaraan damai itu sendiri digelar pada 11-12 April, menyusul pengumuman gencatan senjata dua minggu oleh Presiden Donald Trump. Setelah berlarut-larut hampir 21 jam, Vance akhirnya mengakui kegagalan. Tidak ada kesepakatan yang dicapai.
Respon Trump pun datang cepat. Sehari setelahnya, ia mengumumkan langkah eskalisasi: AS akan memblokade Selat Hormuz untuk semua kapal yang membayar uang tol kepada Iran. Instruksi jelas diberikan kepada Angkatan Laut AS untuk melacak dan mencegat mereka.
Suasanya makin tegang. Dan jalan menuju perdamaian tampaknya masih sangat panjang.
Artikel Terkait
Ekspor Mobil Listrik China Melonjak 112,6 Persen pada Mei 2026, Dorong Dominasi di Pasar Global
Jurrien Timber Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Belanda Panggil Geertruida sebagai Pengganti
Prabowo Minta Maaf ke Dubes Negara Sahabat atas Keterlambatan Penerimaan Surat Kepercayaan
555 CPNS Angkatan Pertama IKN Resmi Dilantik, Basuki Tekankan Empat Karakter Insan Otorita