Kabar baik datang dari sektor industri padat karya. Kinerja ekspornya mulai terkerek naik, dan salah satu pemicunya adalah suntikan modal dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Industri tekstil, misalnya, catatannya cukup menggembirakan dengan pertumbuhan ekspor yang menyentuh angka dua digit.
Ambil contoh PT Mitra Saruta Indonesia. Perusahaan ini merasakan langsung dampaknya. Dalam dekade terakhir, pendapatan mereka terdongkrak berkat perbaikan kinerja ekspor. Bantuan permodalan dari LPEI, yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah, mengalir ke pabrik tekstil mereka di Nganjuk, Jawa Timur.
“Di atas Rp100 miliar pastinya. Naik double digit,” ujar Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Yanto Andrian, saat berbincang dengan awak media di Nganjuk, Kamis lalu.
Dana segitu tentu bukan angka main-main. Menurut Yanto, pinjaman itu dipakai untuk berbagai keperluan. Mulai dari peremajaan mesin produksi, perbaikan infrastruktur, hingga belanja modal lain. Tujuannya satu: mendongkrak ekspor produk yang bahan bakunya berasal dari material daur ulang.
Dari bahan daur ulang itu, pabriknya menghasilkan beragam produk jadi, salah satunya sarung tangan. Selama tiga puluh tahun, produk-produk tersebut telah dikirim ke sejumlah negara di Asia, seperti Jepang dan Rusia.
“Jadi peran LPEI yang selama ini sudah 10 tahun lebih membantu kami yang termasuk sektor padat karya dan modal. Jadi, kami bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan market yang lebih kompetitif dan agresif untuk ekspor,” tutur Yanto.
Di sisi lain, pemerintah punya komitmen jelas lewat LPEI. Berlianto Wibowo, Kepala Divisi Penugasan Khusus dan Strategi LPEI, menegaskan bahwa setiap anggaran pinjaman untuk industri adalah bentuk nyata pendampingan negara. Tujuannya ganda: mengembangkan bisnis sekaligus memacu ekonomi nasional.
Berlianto menitikberatkan pada industri pengolahan seperti tekstil. Menurutnya, industri berdaya ekspor seperti ini punya nilai ekonomi yang prospektif, salah satunya lewat perolehan cadangan devisa.
“Di sinilah peran LPEI sebagai salah satu kepanjangan tangan dari pemerintah dalam hal memberikan support pembiayaan ekspor nasional. Nah ini kami berikan kepada pelaku ekspor yang memang sudah siap berkembang, salah satunya PT Mitra Saruta,” kata Berlianto.
Tak cuma untuk perkuat produksi, injeksi modal ini juga dimaksudkan untuk membuka pasar baru. Selama ini, pasar ekspor Mitra Saruta masih terbatas. Ke depannya, diversifikasi pasar menjadi kunci.
“Salah satu program yang memang berdampak langsung ke pelaku ekspor adalah bagaimana mereka mendiversifikasi market,” urainya.
Berlianto menambahkan, jika kondisi pasar di satu wilayah sedang lesu, LPEI punya program khusus untuk membuka pintu ke daerah lain. “Bisa ke Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa Timur, dan Amerika Latin,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Brebes Siap Jadi Lokasi Peternakan Sapi Perah Terbesar, Targetkan 180 Ribu Ton Susu per Tahun
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah hingga 23 April
Harga Pangan Strategis Beras, Gula, dan Minyak Goreng Menguat, Bawang dan Cabai Rawit Turun
DJP Dorong Industri Manfaatkan Insentif PPh 21 DTP Senilai Rp500 Miliar