Belanja Modal Telkom Kuartal I-2026 Turun Jadi Rp4,9 Triliun, Fokus pada Infrastruktur Inti

- Senin, 01 Juni 2026 | 06:15 WIB
Belanja Modal Telkom Kuartal I-2026 Turun Jadi Rp4,9 Triliun, Fokus pada Infrastruktur Inti

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp4,9 triliun sepanjang Januari hingga Maret 2026. Jumlah ini menyusut dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp5,7 triliun.

Dari total belanja modal pada kuartal pertama tahun ini, hampir seluruhnya tepatnya 99 persen dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen inti. Alokasi tersebut mencakup sektor Business to Consumer (B2C), Business to Business (B2B) Infrastructure, serta segmen internasional. Sisanya digunakan untuk pengembangan platform digital.

Di tengah upaya efisiensi, perseroan terus menjalankan inisiatif streamlining yang dibarengi dengan penataan portofolio bisnis berbasis model HoldCo-OpCo. Langkah ini mencakup divestasi, merger, hingga likuidasi entitas yang dinilai non-inti. Salah satu progres yang tengah berjalan adalah divestasi AdMedika Group yang ditargetkan rampung pada akhir kuartal II-2026.

Inisiatif streamlining tersebut merupakan bagian dari strategi transformasi TLKM 30 yang dirancang untuk mendorong kinerja sekaligus menerapkan disiplin operasional secara konsisten.

“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya,” ujar Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, dalam pernyataan yang dikutip pada Minggu (31/5/2026).

Dari sisi kinerja keuangan, pada kuartal I-2026 Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun, tumbuh 1,5 persen secara tahunan. EBITDA tercatat sebesar Rp18 triliun dengan margin 48,13 persen.

Sementara itu, laba bersih perusahaan mencapai Rp4,3 triliun dengan margin 11,7 persen. Angka laba bersih yang dinormalisasi tercatat lebih tinggi, yakni Rp5,1 triliun dengan margin 13,8 persen. Kontraksi laba bersih terutama dipengaruhi dampak lanjutan dari percepatan depresiasi serta normalisasi bisnis selama masa transisi transformasi.

Meskipun demikian, tekanan tersebut bersifat transisional dan tidak berdampak pada kas (non-cash). Fundamental bisnis Telkom dinilai tetap terjaga. Hal ini tercermin dari arus kas operasional yang tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun, didorong oleh implementasi program pengendalian pengeluaran serta disiplin penagihan yang semakin baik.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar