Serangan Diduga Iran Hancurkan Pipa Air, Picu Banjir Besar di Tel Aviv

- Kamis, 02 April 2026 | 23:40 WIB
Serangan Diduga Iran Hancurkan Pipa Air, Picu Banjir Besar di Tel Aviv

TEL AVIV Banjir besar tiba-tiba menggenangi dua distrik utama di Tel Aviv, Nabib dan Nebrak, Kamis lalu. Bukan karena hujan deras. Menurut laporan awal, penyebabnya justru serangan militer: sebuah bom tandan Iran diduga menghantam dan menghancurkan saluran pipa air utama di kawasan itu.

Akibatnya, air mengalir deras dan tak terkendali. Rekaman video amatir yang beredar memperlihatkan pemandangan yang cukup mencekam. Air luapan dari pipa yang hancur itu dengan cepat membanjiri jalan raya, mengubah jalur transportasi yang biasanya ramai menjadi kubangan air yang luas. Mobilitas kendaraan dan warga pun lumpuh total.

Kepanikan pun tak terhindarkan. Bagaimana tidak, distrik Nebrak dikenal sebagai kawasan dengan mobilitas tinggi. Tiba-tiba saja jalanan yang biasa dipadati kendaraan berubah jadi aliran air yang deras.

“Hantaman tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada sistem saluran air bawah tanah dan memicu banjir besar di kawasan padat penduduk,” begitu bunyi sebuah laporan yang dirilis Kamis (2/4/2026).

Di sisi lain, kerusakan yang ditimbulkan ternyata cukup parah. Bukan hanya banjir di permukaan, infrastruktur sanitasi bawah tanah juga mengalami kerusakan serius. Hal ini tentu saja melumpuhkan aktivitas sehari-hari warga setempat.

Namun begitu, ada kabar baik di tengah situasi kacau ini. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau luka-luka akibat insiden tersebut. Baik dari dampak banjirnya sendiri maupun dari ledakan awal.

Pihak berwenang sudah mengimbau warga untuk menjauhi area terdampak. Kekhawatiran sekarang adalah stabilitas tanah di sekitar pipa yang hancur, yang dikhawatirkan sudah labil dan berpotensi menimbulkan bahaya lanjutan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar