Pantau – Ketegangan di Timur Tengah memanas. Iran kini berhadapan dengan Amerika Serikat dan Israel. Bagi Indonesia, situasi genting ini bukan cuma berita dari jauh. Ada peluang sekaligus tekanan: momentum untuk mendorong program elektrifikasi lebih cepat, lepas dari jerat impor bahan bakar fosil.
Lho, apa hubungannya? Menurut ekonom konstitusi Defiyan Cori, kunci jawabannya ada di Selat Hormuz. Itu adalah jalur laut super vital tempat sebagian besar minyak dunia dikirim.
"Kalau konflik sampai mengganggu selat itu, ya waspada. Pasokan energi kita bisa terpukul, mengingat ketergantungan pada impor minyak dan gas masih besar," ujar Defiyan.
Ini jadi tantangan serius buat pemerintah. Di satu sisi, Presiden Prabowo Subianto punya target swasembada energi. Di sisi lain, ancaman terhadap pasokan global bisa menggoyang ketahanan nasional. Belum lagi efek domino lainnya: harga minyak dunia berpotensi melambung. Kalau itu terjadi, beban APBN untuk subsidi energi bakal makin berat.
Angkanya sudah menunjukkan tren mengkhawatirkan. Subsidi energi melonjak dari Rp95,7 triliun di tahun 2020, menjadi Rp203,4 triliun di 2024. Porsi terbesarnya? Untuk BBM dan LPG impor.
Artikel Terkait
Pentagon Gandeng Boeing dan Lockheed Martin untuk Tiga Kali Lipat Produksi Sensor Rudal Patriot
BPBD Medan Bergerak Cepat Evakuasi Warga Terdampak Luapan Sungai Deli
Kilas Balik 2 April: Dari Kemerdekaan Cirebon hingga Wabah Antraks Rusia
Bayi Perempuan Ditemukan Terbungkus Plastik di Sambas, Disertai Pesan Tolong Dimakamkan