NTP Bangka Belitung Naik Tipis ke 154,86 di Maret 2026, Biaya Produksi Masih Tekan

- Jumat, 03 April 2026 | 01:15 WIB
NTP Bangka Belitung Naik Tipis ke 154,86 di Maret 2026, Biaya Produksi Masih Tekan

TVRINews, Kepulauan Bangka Belitung

Ada kabar baik buat para petani di Bangka Belitung. Di Maret 2026 ini, daya beli mereka ternyata sedikit menguat. Badan Pusat Statistik (BPS) setempat mencatat Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) naik tipis ke angka 154,86. Kalau dibandingin sama bulan Februari yang cuma 154,36, kenaikannya sekitar 0,33 persen. Memang sih, angkanya nggak besar banget, tapi setidaknya ini tren yang positif.

Kepala BPS Bangka Belitung, Sugeng Arianto, mencoba membeberkan penyebabnya. Menurut dia, kenaikan ini didorong oleh indeks harga yang diterima petani, yang naik 0,72 persen. Tapi, ceritanya nggak semulus itu.

“Indeks Nilai Tukar Petani atau NTP di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Maret 2026 tercatat sebesar 154,86 atau mengalami kenaikan tipis sebesar 0,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” jelas Sugeng.

“Kenaikan ini didorong oleh penguatan di hampir seluruh subsektor kecuali tanaman pangan dan perkebunan rakyat, yang menempatkan Bangka Belitung di posisi kelima tertinggi di Pulau Sumatra,” tambahnya.

Nah, di sisi lain, petani juga harus gigit jari. Soalnya, biaya konsumsi dan produksi ikut-ikutan naik. Beberapa komoditas seperti daging ayam ras, bensin, sampai cumi-cumi harganya merangkak. Inflasi pangan, terutama untuk hortikultura dan tanaman pangan, juga punya pengaruh kuat terhadap fluktuasi NTP ini.

Kalau kita lihat lebih luas, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga ikut merangkak naik. Angkanya mencapai 152,82 di Maret, atau naik 0,28 persen. Sektor hortikultura jadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan 4,31 persen, disusul peternakan yang tumbuh 3,62 persen. Lumayan, kan?

Tapi jangan senang dulu. Di balik tren positif itu, ada satu subsektor yang masih merintih: perkebunan rakyat. Subsektor ini justru mengalami penurunan indeks sebesar 0,13 persen. Biaya produksi yang melonjak 0,44 persen jadi biang keladinya, terutama gara-gara harga pupuk macam Urea dan TSP yang terus membumbung tinggi. Beban pekebun pun bertambah.

Jadi, gambaran besarnya gimana? Tren kenaikan NTP ini memang bikin hati sedikit lega karena mencerminkan daya beli petani yang membaik. Namun begitu, di lapangan, tantangan kenaikan biaya produksi tetap menjadi bayang-bayang yang menghantui. Perbaikan ada, tapi perjuangan mereka di sawah dan ladang belum usai.


Penulis: Mia
Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar