Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga: Luka yang Tak Kasat Mata, Dampaknya Nyata

- Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:06 WIB
Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga: Luka yang Tak Kasat Mata, Dampaknya Nyata

Bayangkan sebuah rumah tangga yang dari luar tampak baik-baik saja. Tidak ada memar, tidak ada laporan polisi, tidak ada tetangga yang curiga. Namun di dalamnya, ada seseorang yang setiap hari mendengar dirinya disebut bodoh, tidak berguna, atau gagal. Ada yang dibentak setiap kali berpendapat, diejek di depan anak-anak, atau didiamkan selama berhari-hari sebagai hukuman. Tidak ada luka yang bisa difoto, tetapi luka itu ada dan sering kali lebih lama sembuh dibandingkan memar biasa.

Inilah yang disebut kekerasan verbal dalam rumah tangga: bentuk kekerasan yang menggunakan kata-kata, nada suara, atau bahkan kesunyian sebagai alat untuk menyakiti, mengontrol, atau merendahkan pasangan maupun anggota keluarga lainnya. Bentuknya bisa berupa bentakan, hinaan, ancaman, sindiran menyakitkan, julukan yang merendahkan, hingga silent treatment yang berkepanjangan. Semua itu sah disebut kekerasan, meski tidak meninggalkan bekas di kulit.

Kenapa Sering Dianggap Sepele

Salah satu alasan kekerasan verbal sulit dikenali adalah karena tidak meninggalkan bukti fisik. Banyak orang berpikir, 'kan cuma kata-kata, tidak sampai memukul. Padahal, kata-kata yang diucapkan berulang-ulang, apalagi oleh orang terdekat, punya kekuatan membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Ditambah lagi, ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa bentak-bentakan dalam rumah tangga itu wajar, bagian dari 'bumbu' pernikahan, atau cara suami-istri saling mendidik. Anggapan seperti inilah yang membuat korban ragu menyebut apa yang mereka alami sebagai kekerasan.

Dampak yang Tidak Kelihatan, Tapi Nyata

Meski tidak kasat mata, dampak kekerasan verbal cukup nyata. Korban bisa kehilangan rasa percaya diri, terus-menerus merasa cemas, atau mulai mempercayai hal-hal buruk yang dikatakan tentang dirinya. Sebagian mengalami gejala mirip trauma: sulit tidur, mudah terkejut, atau menghindari situasi yang mengingatkan pada pertengkaran.

Jika ada anak yang tumbuh menyaksikan pola ini, mereka juga berisiko menganggap cara komunikasi yang kasar itu sebagai hal biasa dan bisa mengulanginya kelak dalam hubungan mereka sendiri. Di sinilah kekerasan verbal berbahaya: ia bisa menurun, bukan hanya menyakiti.

Saatnya Berhenti Menganggapnya Biasa

Mengenali kekerasan verbal bukan berarti mencari-cari kesalahan pasangan atas setiap kata yang keluar saat emosi memuncak. Semua orang bisa khilaf. Yang perlu diwaspadai adalah polanya: apakah kata-kata menyakitkan itu terjadi berulang-ulang, disengaja, dan bertujuan membuat orang lain merasa kecil hati dan tidak percaya diri? Jika iya, itu bukan lagi soal 'lagi emosi', melainkan kekerasan yang butuh penanganan serius.

Bagi yang merasa mengalaminya, penting untuk tahu bahwa perasaan tidak nyaman itu valid dan layak dibicarakan, baik dengan orang yang dipercaya, psikolog, maupun lembaga layanan yang menangani kekerasan dalam rumah tangga. Bagi yang menyaksikannya terjadi pada orang terdekat, dukungan tanpa menghakimi sering kali jauh lebih berarti daripada nasihat untuk 'sabar saja'.

Rumah semestinya menjadi tempat paling aman bagi siapa pun yang tinggal di dalamnya, bukan tempat kita belajar menahan napas sambil menunggu kalimat menyakitkan berikutnya. Mengakui bahwa kata-kata bisa melukai adalah langkah pertama untuk membuat rumah benar-benar terasa seperti rumah lagi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags