Kapolda Sumsel Tegaskan Toleransi Kunci Utama Keamanan di Bumi Sriwijaya

- Kamis, 02 April 2026 | 22:50 WIB
Kapolda Sumsel Tegaskan Toleransi Kunci Utama Keamanan di Bumi Sriwijaya

Malam itu, di Pura Agung Sriwijaya Palembang, nuansa khidmat dan gemerlap lampu menyatu. Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Sandi Nugroho, hadir dalam perayaan Dharma Santi menyambut Hari Suci Nyepi Tilem Kesanga. Bagi sang jenderal, momen seperti ini lebih dari sekadar acara seremonial. Ia menegaskan, toleransi antarumat beragama adalah fondasi yang tak bisa ditawar lagi untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di Bumi Sriwijaya.

Acara yang digelar Kamis (2/4/2026) malam itu dibuka dengan Tarian Penyembrana. Sandi tak sendiri. Dirintelkam Polda Sumsel, Kombes Tony Budhi Susetyo, mendampinginya. Tampak juga Gubernur Herman Deru, Kajati Sumsel Ketut Sumedana, dan Walikota Palembang Ratu Dewa. Mereka semua hadir, duduk berdampingan, menyaksikan rangkaian acara yang berlangsung hangat.

Agendanya cukup padat. Mulai dari pengukuhan pengurus PABSS se-Sumsel oleh Gubernur, hingga penyerahan bantuan. Namun, pesan intinya jelas: keamanan bukan hanya tugas polisi.

"Bagi kami, toleransi bukan sekadar konsep sosial, melainkan instrumen mutlak dalam menjaga Kamtibmas," ujar Sandi.

Suaranya tegas namun tenang. "Ketika masyarakat saling menghormati perbedaan, maka segala bentuk potensi gangguan keamanan dan perpecahan dengan sendirinya akan teredam. Inilah kunci kondusivitas di Sumatera Selatan."

Ia pun menyampaikan apresiasi yang dalam. Umat Hindu di Palembang dan Sumsel, menurutnya, punya kontribusi nyata dalam merawat harmoni. Itu salah satu alasan mengapa daerah ini masih bisa mempertahankan predikat Zero Conflict.

"Bumi Sriwijaya ini sejak dulu dikenal dengan kerukunannya," lanjutnya, mencoba mengingatkan semua pihak.

"Mari kita terus bersinergi dengan Polri dan pemerintah daerah. Jika toleransi ini terus kita rawat, kita akan selalu bisa bersama-sama 'Nyago Bumi Sriwijaya, Aman Bae'."

Di sisi lain, acara itu sendiri adalah sebuah pertunjukan kerukunan. Sela-sela antara sambutan dan pengukuhan, diisi dengan suguhan kesenian yang memukau. Tari Panji Semirang, lalu Sekar Jagat, dan juga Tari Puspa Puja. Tak ketinggalan, Kajati Sumsel Ketut Sumedana yang hadir sebagai tokoh umat Hindu juga memberikan sambutan hangat.

Pada akhirnya, kehadiran para pemimpin daerah di malam itu mengirimkan sinyal yang kuat. Kolaborasi mereka bukan basa-basi. Itu adalah simbol komitmen nyata negara untuk merangkul semua golongan. Sebuah jaminan, bahwa kebebasan dan kenyamanan beribadah adalah hak semua warga, tanpa terkecuali. Malam itu di Palembang, pesannya terdengar jelas: kerukunan adalah tugas bersama.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar