Kebiasaan menonton pornografi dan melakukan masturbasi, yang dikenal dengan istilah PMO (Porn, Masturbation, Orgasm), dinilai dapat mengganggu suasana hati dan menurunkan produktivitas apabila dilakukan secara berlebihan, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti pagi hari setelah bangun tidur.
Dokter spesialis andrologi, dr. Jefry Tribowo, menjelaskan bahwa pagi hari seharusnya dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih positif dan produktif. Pasalnya, kondisi otak masih segar setelah beristirahat dan sangat ideal untuk menyerap hal-hal baru.
“Kalian yang sering melakukan hal ini, sebaiknya hindari waktu-waktu tertentu untuk menonton pornografi dan masturbasi. Kalau terus dilakukan di waktu itu, bukan tidak mungkin hari-hari kalian jadi terasa lebih buruk,” kata dr. Jefry dalam unggahan video di akun Instagram miliknya.
Menurutnya, waktu yang paling perlu dihindari untuk melakukan PMO adalah sesaat setelah bangun tidur. Ia menekankan bahwa aktivitas yang dilakukan di awal hari sangat berpengaruh terhadap suasana hati, fokus, dan pola aktivitas seseorang sepanjang hari.
“Waktu yang sebaiknya dihindari untuk menonton pornografi dan masturbasi adalah pagi hari setelah bangun tidur,” ujarnya.
Dr. Jefry menilai, jika seseorang langsung melakukan PMO begitu memulai hari, otak akan terbiasa menerima rangsangan instan sejak pagi. Kebiasaan ini, lanjutnya, dapat mengganggu konsentrasi dan menurunkan motivasi untuk menjalani aktivitas lain.
“Kalau baru bangun tidur langsung menonton pornografi dan masturbasi, yang terjadi adalah kita mengawali hari dengan stimulasi yang kurang baik,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa pagi hari idealnya diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti belajar, berolahraga ringan, atau mempersiapkan diri menghadapi rutinitas harian. “Pagi hari sebenarnya waktu yang baik untuk mengisi kepala dengan hal-hal positif. Daripada menonton pornografi, lebih baik digunakan untuk belajar atau aktivitas lain yang produktif,” tambahnya.
Meski demikian, dr. Jefry menekankan pentingnya membangun kebiasaan sehat secara bertahap. Hal ini terutama berlaku bagi mereka yang merasa sulit mengurangi kebiasaan tersebut akibat faktor kecanduan atau rutinitas tertentu. Perubahan kecil yang konsisten, menurutnya, dapat membawa dampak besar dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Sunan Kalijaga Mundur sebagai Kuasa Hukum, Erin Taulany Tunjuk Pengacara Baru
Dewi Perssik Ikhlas Berkurban di Tengah Kelelahan Usai Syuting Hingga Subuh
Universitas Oxford Kembangkan Vaksin Khusus untuk Lawan Varian Langka Ebola yang Mewabah di Kongo
Menkes: Protein Daging Kurban Setara dengan Whey Protein, Baik untuk Pembentukan Otot