Universitas Oxford Kembangkan Vaksin Khusus untuk Lawan Varian Langka Ebola yang Mewabah di Kongo

- Kamis, 28 Mei 2026 | 11:55 WIB
Universitas Oxford Kembangkan Vaksin Khusus untuk Lawan Varian Langka Ebola yang Mewabah di Kongo

Universitas Oxford tengah mengembangkan vaksin untuk melawan varian langka virus Ebola, Bundibugyo, yang saat ini mewabah di Republik Demokratik Kongo (DRC), Afrika Tengah. Pengembangan ini dilakukan di tengah lonjakan kasus yang telah mencapai lebih dari 1.000 infeksi dengan sedikitnya 220 kematian dalam beberapa pekan terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa varian Bundibugyo memiliki tingkat penularan yang tinggi antarmanusia.

Varian Bundibugyo dikenal sebagai salah satu jenis Ebola yang langka dan mematikan, dengan tingkat kematian yang dilaporkan mencapai 50 persen. Hingga saat ini, belum ada vaksin khusus yang tersedia untuk menangani varian tersebut. Para ilmuwan Oxford kini berpacu dengan waktu untuk menciptakan vaksin yang diharapkan mampu melindungi pasien dari gejala berat sekaligus menekan penyebaran virus.

Meskipun pengembangan dikebut, vaksin tersebut tampaknya belum bisa langsung digunakan dalam waktu dekat. Tim peneliti memperkirakan vaksin baru dapat memasuki tahap uji coba pada manusia dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Artinya, belum ada kepastian vaksin dapat segera didistribusikan secara luas dalam beberapa bulan mendatang, meskipun proses pengembangannya dipercepat tahun ini.

"Tidak ada jaminan vaksin ini akan efektif, tetapi jika berhasil, vaksin dapat melindungi pasien dari penyakit parah dan kematian," demikian pernyataan dalam laporan terkait pengembangan tersebut. Sementara itu, wabah Ebola saat ini disebut sebagai salah satu yang tercepat sejak epidemi besar tahun 2014 di Afrika Barat, yang menyebabkan lebih dari 28.000 kasus dan 11.000 kematian.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa penyebaran wabah kini lebih cepat dibanding kemampuan pengendaliannya. "Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi menyebar lebih cepat daripada kemampuan kami untuk mengendalikannya," ujar Tedros.

Gejala Ebola varian Bundibugyo umumnya dimulai dari demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan diare. Dalam kondisi berat, pasien dapat mengalami pendarahan internal, gagal organ, hingga meninggal dunia. Virus Ebola juga diketahui dapat bertahan dalam tubuh hingga 21 hari sebelum gejala muncul, sehingga meningkatkan risiko penularan tanpa terdeteksi.

Di sisi lain, sejumlah negara kini meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyebaran lintas negara. Amerika Serikat, misalnya, memperketat pemeriksaan di bandara setelah seorang dokter asal AS dinyatakan positif Ebola usai bekerja di wilayah terdampak.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar