Relawan Indonesia Herman Budianto Ungkap Penyiksaan Brutal Tentara Israel saat Bajak Kapal Bantuan Gaza

- Jumat, 29 Mei 2026 | 03:00 WIB
Relawan Indonesia Herman Budianto Ungkap Penyiksaan Brutal Tentara Israel saat Bajak Kapal Bantuan Gaza

Upaya kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza berujung pada pengalaman traumatis bagi para relawan. Herman Budianto, relawan asal Indonesia yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0, menceritakan bagaimana kapal pembawa bantuan yang ditumpanginya diadang dan dibajak secara brutal oleh tentara Israel di perairan internasional. Misi yang sejatinya bertujuan menyelamatkan nyawa warga sipil Palestina itu berubah menjadi mimpi buruk ketika niat baik dibalas dengan laras senjata dan penyiksaan fisik di luar batas kemanusiaan.

“Tujuan utama dari Global Sumud Flotilla adalah untuk membuka adanya blokade yang sekarang ini membikin sulit masyarakat di Gaza. Kita sangat mengkhawatirkan adanya kematian karena kelaparan dan tidak bisa ditangani karena langkanya obat,” kata Herman dalam sebuah wawancara, Kamis (28/5/2026).

Upaya menembus blokade tersebut terhenti ketika tentara Israel mengepung armada dari berbagai penjuru. Herman bersaksi bahwa sejak detik pertama pasukan Israel naik ke atas kapal, teror fisik dan psikis langsung dimulai. “Setelah kita di-intercept, mereka langsung mengikat kami. Dimasukkan ke bawah dalam posisi jongkok dan menunduk dengan dilakukan pemukulan-pemukulan dan juga penghinaan,” ungkapnya.

Penyiksaan semakin menjadi ketika para relawan dipindahkan ke dalam kontainer di atas kapal perang Israel. Selama berhari-hari, mereka mengalami siksaan yang bertubi-tubi. “Ada pemukulan, tendangan, setrum, disiram dengan air. Kita tidur di tempat yang ada airnya basah. Bahkan dilempari granat kejut yang menimbulkan luka cukup parah,” tambah Herman.

Puncak kengerian terjadi ketika 482 relawan dari berbagai negara dibawa merapat ke pelabuhan Ashdod, Israel. Di tempat inilah Herman menyaksikan brutalitas militer Israel yang membabi buta, menghajar relawan tanpa peduli paspor negara Barat yang mereka pegang. Relawan asal Amerika Serikat, Jerman, Belanda, hingga Spanyol turut menjadi korban. “Di Ashdod itu yang paling mengerikan. Saya mendengarkan teriakan meminta tolong dari laki-laki maupun perempuan... Kepala diinjak, punggung diinjak, ditendang. Ada sekitar 50-an (relawan) yang mengalami patah rusuk, tangan, dan kaki,” kisahnya.

Herman menegaskan bahwa tentara Israel sama sekali tidak memedulikan gender para relawan kemanusiaan tersebut. “Mereka tidak pandang bulu terkait dengan asal negaranya, usianya, termasuk gender. Teriakan-teriakan minta tolong dari wanita itu luar biasa, yang paling pilu saya dengarkan,” ucapnya lirih.

Di tengah ancaman hukuman mati dan siksaan fisik yang membuat napasnya sesak hingga saat ini, Herman justru menolak untuk menyerah. “Kalau masyarakat Palestina yang benar-benar berjuang untuk kemerdekaan mereka, pasti penyiksaannya jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kami. Jadi kami ini bukan apa-apa gitu,” tegasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar