Mulai Jumat depan, tepatnya 1 April 2026, suasana perkantoran di kota-kota besar diprediksi akan lebih sepi. Pemerintah resmi memberlakukan kerja dari rumah atau WFH setiap hari Jumat. Bukan tanpa alasan, langkah ini disebut-sebut sebagai strategi jitu untuk menahan laju konsumsi energi, terutama bahan bakar minyak yang harganya terus merangkak naik.
Bonti Wiradinata, seorang pengamat kebijakan publik dari Unpad, melihat ini sebagai langkah yang cukup cerdik. Menurutnya, daripada menaikkan harga BBM yang pasti bikin rakyat mengeluh dan berpotensi memicu inflasi, pemerintah memilih mengatur permintaan.
Ujarnya, seperti dilansir JawaPos akhir pekan lalu.
Dampaknya? Bonti yakin bakal signifikan. Bayangkan saja, gedung-gedung pencakar langit di Jakarta, Surabaya, atau Medan yang biasanya penuh aktivitas di hari kerja, bisa menghemat listrik sampai 15–20 persen. Belum lagi soal transportasi. Sektor ini kan penyumbang hampir separuh konsumsi energi nasional. Kalau orang nggak perlu berangkat ke kantor, otomatis pemakaian BBM bisa ditekan.
“Penghematan terjadi pada dua titik utama, yaitu operasional gedung dan konsumsi bahan bakar kendaraan,” jelas Bonti.
Lalu bagaimana dengan produktivitas? Bonti justru optimis. Selama infrastruktur digitalnya mendukung, kerja hybrid malah bisa bikin kinerja lebih efisien. “Kuncinya bukan pada lokasi kerja, melainkan pada infrastruktur digital sebagai backbone manajemen birokrasi,” katanya menegaskan.
Artikel Terkait
Liga Arab Dukung Resolusi DK PBB untuk Amankan Selat Hormuz
Tiga Pelaku Penyiraman Air Keras di Bekasi Ditangkap, Motifnya Dendam Pribadi
Dua Pelaku Penganiayaan Siswi di Luwu Utara Malah Berjoget di Kantor Polisi
Korban Serangan Air Keras Andrie Yunus Kirim Pesan Semangat dari Ruang HCU