Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April

- Senin, 30 Maret 2026 | 08:20 WIB
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April

Dalam sebuah wawancara yang cukup mengejutkan, Presiden AS Donald Trump mengungkapkan keinginannya untuk mengambil alih sumber minyak Iran. Bahkan, dia secara khusus menyebut Pulau Kharg pusat ekspor minyak mentah utama negara itu sebagai target potensial. Wawancara itu diberikan kepada Financial Times dan baru saja dikutip oleh Iran International, Senin (30/3/2026).

Latar belakang pernyataan ini adalah pengiriman ribuan tentara AS ke Timur Tengah. Mereka dikerahkan untuk persiapan invasi darat, jika memang diperlukan.

“Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil alih minyak di Iran,” ujar Trump dengan nada khasnya.

“Tapi beberapa orang bodoh di AS bilang: ‘mengapa Anda melakukan itu?’ Mereka itu orang bodoh,” tambahnya tanpa tedeng aling-aling.

Menurutnya, salah satu opsi militer yang ada adalah merebut Pulau Kharg. “Mungkin kita merebutnya, mungkin tidak. Kita punya banyak pilihan,” katanya. Namun, operasi semacam itu jelas butuh waktu dan komitmen pasukan yang tak sebentar. Mereka harus tetap berada di sana.

Dan pasukan itu memang sudah bergerak. Pentagon memerintahkan pengerahan sekitar 10.000 tentara terlatih khusus untuk misi merebut dan mempertahankan wilayah. Baru Jumat lalu, sekitar 3.500 personel tiba, termasuk 2.200 Marinir. Sejumlah Marinir lagi masih dalam perjalanan, ditambah ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82. Semuya dikirim ke kawasan itu.

Namun begitu, rencana menyerang pusat minyak Iran jelas bukan tanpa risiko. Para analis memperingatkan, langkah itu bisa memicu korban jiwa lebih banyak di pihak AS. Biaya perang pun akan membengkak, durasinya semakin panjang.

Trump tampaknya meremehkan tantangan itu. Saat ditanya soal pertahanan Iran di Pulau Kharg, dia dengan enteng menjawab, “Saya rasa mereka tidak punya pertahanan apa-apa. Kita bisa merebutnya dengan sangat mudah.”

Konflik di lapangan sendiri terus meluas. Serangan Iran ke pangkalan udara Arab Saudi pada Jumat lalu melukai 15 tentara Amerika dan menghancurkan pesawat mata-mata E-3 Sentry senilai 270 juta dolar AS. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman juga menembakkan rudal balistik ke Israel. Eskalasi ini berpotensi memicu krisis energi global yang lebih parah.

Yang menarik, di tengah semua ancaman militer itu, Trump menyebut bahwa jalur diplomasi masih terbuka. Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran, yang difasilitasi Pakistan, dikatakannya berjalan cukup baik.

Meski begitu, dia tetap memberi tenggat waktu: 6 April. Iran harus menerima kesepakatan yang ditawarkan AS untuk mengakhiri perang, atau menghadapi serangan ke sektor energinya.

Lalu, apakah gencatan senjata bisa dicapai dalam hitungan hari? Itu bisa membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia. Trump enggan berkomentar rinci.

“Kita masih punya sekitar 3.000 target tersisa kita sudah mengebom 13.000 target dan masih ada beberapa ribu lagi yang harus dibom,” paparnya. “Tapi kesepakatan bisa dibuat dengan cepat.”

Sebagai tanda ‘niat baik’, Trump mengklaim Iran telah mengizinkan kapal tanker minyak berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz. Awalnya 10 kapal, katanya, sekarang jadi 20. Klaim ini, seperti diberitakan Financial Times, belum bisa diverifikasi secara independen.

“Mereka memberi kami 10,” ucap Trump. “Sekarang mereka memberi 20. Kapal-kapal itu sudah berlayar, menuju tengah selat.”

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar