Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pengadaan 150 juta ton minyak mentah dari Rusia, meskipun Amerika Serikat secara resmi telah mencabut kebijakan pelonggaran sanksi terhadap produk minyak dan gas bumi dari negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjamin bahwa kesepakatan impor minyak dari Rusia tetap berjalan. Ia menyebutkan bahwa Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, baru saja menyelesaikan lawatan dinas ke Rusia sebagai bagian dari proses tindak lanjut kerja sama tersebut.
“Sekarang kan masih tetap berproses, kemarin juga Pak Wamen barusan kembali dari sana juga. Jadi proses tetap berjalan,” ujar Laode kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Senin (18/5/2026).
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi jika kelak muncul hambatan dalam pengiriman komoditas energi tersebut. Salah satu solusi yang siap dioptimalkan adalah memaksimalkan peran strategis Indonesia sebagai anggota blok ekonomi BRICS.
“Iya, kita semua koridor, kalau kita enggak bisa ke sana, kita ke BRICS. Akan tetapi, intinya secara negara pun satu negara kita kan bebas aktif ya. Jadi itu, apalagi kita juga anggota BRICS,” tegas Laode.
Pemerintah Indonesia menekankan bahwa kerja sama sektor energi dengan Rusia mencakup berbagai aspek, mulai dari tindak lanjut rencana pembelian minyak, pengembangan ladang migas, proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, hingga kerja sama energi nuklir untuk tujuan damai. Penjajakan ini berlangsung dalam forum Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia-Rusia Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik yang digelar di Kazan, Rusia, pada 12–14 Mei 2026.
Forum SKB tersebut merupakan mekanisme kerja sama bilateral resmi antara Indonesia dan Federasi Rusia untuk mengevaluasi perkembangan kerja sama di berbagai sektor strategis. Dalam kesempatan itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyoroti pentingnya penguatan investasi dan kerja sama teknologi energi guna mendukung ketahanan energi nasional serta transisi menuju energi bersih.
“Kerja sama di sektor energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil. Hal ini sejalan dengan prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan energi, baik untuk bahan bakar minyak maupun listrik,” ujar Yuliot dalam sesi Plenary SKB RI-Rusia di Kazan, Rusia, Jumat (15/5/2026).
Artikel Terkait
Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026
The Super Mario Galaxy Movie Tembus Satu Miliar Dolar AS di Box Office Global
OJK: Program Penjaminan Polis Jadi Fondasi Baru Perlindungan Pemegang Polis
Joey Pelupessy Akui Duet dengan Ivar Jenner di Lini Tengah Timnas Indonesia Mulai Tumbuh