Wall Street Beragam, Imbal Hasil Obligasi Turun Redakan Tekanan Pasar Saham

- Senin, 18 Mei 2026 | 22:40 WIB
Wall Street Beragam, Imbal Hasil Obligasi Turun Redakan Tekanan Pasar Saham

Tiga indeks utama Wall Street ditutup dengan pergerakan beragam pada Senin (18/5/2026), seiring meredanya aksi jual di pasar obligasi yang pekan lalu sempat menekan saham, sementara harga minyak mentah turun. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 139,25 poin atau 0,28 persen ke level 49.665,42, dan indeks S&P 500 menguat tipis 3,27 poin atau 0,04 persen menjadi 7.411,61. Di sisi lain, indeks Nasdaq justru tertekan dan turun 35,93 poin atau 0,14 persen ke posisi 26.189,22.

Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan biaya pinjaman global, turun ke level 4,573 persen. Sebelumnya, imbal hasil sempat melonjak hingga 4,631 persen, level tertinggi yang tercatat sejak Februari 2025. Penurunan ini meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan lanjutan di pasar surat utang.

Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent melemah hampir dua persen setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat mengusulkan keringanan sementara terhadap sanksi minyak Iran. Langkah tersebut meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan global. Hingga berita ini diturunkan, pejabat Iran belum memberikan tanggapan resmi.

Manajer portofolio senior di Dakota Wealth, Robert Pavlik, menilai pergerakan imbal hasil menjadi faktor kunci di balik dinamika pasar saat ini. Menurutnya, saham-saham pertumbuhan, terutama yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), dihargai berdasarkan proyeksi laba di masa depan. Ketika imbal hasil naik, valuasi saat ini otomatis tertekan.

“Imbal hasil adalah kunci dari semua ini karena saham pertumbuhan, terutama perusahaan terkait AI, dihargai berdasarkan proyeksi laba ke depan. Ketika imbal hasil naik, valuasi saat ini akan turun. Itu isu utama bagi pasar,” ujar Pavlik.

Aksi jual obligasi yang terjadi belakangan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Inflasi yang tinggi dapat membuat biaya pinjaman tetap berada di level tinggi, sementara upaya untuk mengakhiri konflik Iran tampak menemui hambatan.

Di dalam indeks S&P 500, sektor jasa konsumen dan keuangan menjadi motor penguatan, sedangkan sektor teknologi informasi dan energi mencatat kinerja terlemah. Pasar saham AS sendiri telah menguat tajam dalam beberapa pekan terakhir, dengan S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor tertinggi. Antusiasme terhadap kecerdasan buatan membuat investor cenderung mengabaikan ancaman inflasi akibat kenaikan harga minyak.

Minggu ini, pasar menanti sejumlah laporan keuangan penting. Nvidia dijadwalkan merilis kinerja pada Rabu, dengan ekspektasi yang sangat tinggi. Saham perusahaan semikonduktor itu telah naik 36 persen dari titik terendahnya pada Maret, sementara indeks semikonduktor Philadelphia melonjak lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini berkat permintaan kuat terhadap chip terkait AI.

Walmart, peritel terbesar di dunia, juga diperkirakan akan mengumumkan laporan keuangannya pekan ini. Hasil laporan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana konsumen Amerika Serikat menghadapi kenaikan harga energi dan tekanan inflasi secara umum.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar