PPIH Siapkan Skema Murur untuk Lansia dan Jemaah Risiko Tinggi di Puncak Haji

- Senin, 18 Mei 2026 | 01:45 WIB
PPIH Siapkan Skema Murur untuk Lansia dan Jemaah Risiko Tinggi di Puncak Haji

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tengah mematangkan penerapan skema murur bagi calon jemaah haji Indonesia menjelang fase puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Skema ini dirancang khusus untuk calon jemaah lanjut usia, berisiko tinggi, serta pendampingnya agar tidak perlu turun dan bermalam di Muzdalifah.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag sekaligus Wakil Penanggung Jawab II PPIH Arab Saudi, Puji Raharjo, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk mengurangi kepadatan di Muzdalifah sekaligus menjaga kondisi kesehatan jemaah yang rentan. “Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” ujarnya, Minggu, 17 Mei 2026.

Dalam skema tersebut, calon jemaah yang masuk kategori murur akan langsung melanjutkan perjalanan dari Arafah menuju Mina menggunakan bus setelah menjalani wukuf. Mereka tidak perlu turun di Muzdalifah maupun menunggu hingga tengah malam sebelum diberangkatkan kembali. “Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah,” kata Puji.

Sementara itu, calon jemaah yang dalam kondisi sehat tetap akan menjalani mabit di Muzdalifah sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina setelah lewat tengah malam. Puji menuturkan, PPIH Arab Saudi bersama Satuan Operasi Armuzna masih menyelesaikan pembahasan teknis terkait pelaksanaan murur dan tanazul, termasuk pembagian jemaah serta penyusunan standar operasional prosedur (SOP).

Koordinasi juga terus dilakukan dengan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, hingga Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) guna memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan lancar. “Kita berharap semua jemaah bisa mengikuti puncak ibadah haji secara normal, sehat, dan tanpa terkendala hal-hal yang menghambat ibadah,” ucap dia.

Menurut Puji, disiplin calon jemaah dalam mengikuti arahan petugas menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan Armuzna tahun ini. Ia tidak ingin persoalan yang pernah terjadi pada musim haji sebelumnya kembali terulang. “Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan,” ujarnya.

Selain skema murur, PPIH juga menyiapkan penempatan petugas lebih awal di Arafah dan Mina. Beberapa petugas bahkan akan disiagakan khusus di Mina sebelum puncak haji dimulai guna membantu kedatangan calon jemaah dan memastikan mereka menempati tenda sesuai lokasi. “Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jamaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik,” kata Puji.

Ia menambahkan, sebagian petugas yang ditempatkan di Mina merupakan personel berpengalaman yang telah beberapa kali mengikuti penyelenggaraan haji. Di sisi lain, layanan safari wukuf bagi calon jemaah lansia dan penyandang disabilitas juga tetap disiapkan dengan kuota sekitar 300 hingga 400 orang. Menurut dia, jumlah peserta safari wukuf tahun ini telah melalui pemeriksaan kesehatan dan pemantauan kondisi calon jemaah yang lebih ketat sejak dari Indonesia hingga berada di Arab Saudi.

Menjelang puncak ibadah haji, Puji turut mengingatkan calon jemaah agar menjaga stamina dan tidak memaksakan diri melakukan aktivitas berat sebelum wukuf di Arafah. “Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya,” ujar dia.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar