Tanggul Citarum Jebol, Ribuan Rumah di Muara Gembong Terendam Banjir

- Selasa, 20 Januari 2026 | 10:18 WIB
Tanggul Citarum Jebol, Ribuan Rumah di Muara Gembong Terendam Banjir

Hujan deras yang mengguyur Bekasi selama berhari-hari akhirnya memakan korban. Di Muara Gembong, tepatnya di Kampung Bendungan, sebuah tanggul Sungai Citarum tak kuasa lagi menahan beban. Ia jebol pada Senin malam, sekitar pukul 23.50 WIB, mengirimkan air bah yang dalam sekejap membanjiri permukiman warga.

“Tanahnya masih gembur karena hujan berhari-hari. Kena rembesan sedikit saja langsung terkikis sampai akhirnya jebol,”

kata Satibi (45), warga setempat, ketika ditemui di lokasi kejadian, Selasa pagi. Kekhawatirannya terlihat jelas di raut wajahnya.

Lokasi tanggul yang bobol itu berbatasan langsung dengan jalan raya. Faktor ini membuat air mengalir dengan cepat dan ganas masuk ke dalam kampung. Hanya dalam hitungan menit, genangan di beberapa titik sudah setinggi pinggang orang dewasa, bahkan ada yang mencapai satu setengah meter. Satu rumah yang berdiri paling dekat dengan bibir sungai mengalami kerusakan parah. Syukurlah, penghuninya berhasil menyelamatkan diri, sehingga laporan korban jiwa bisa dihindari.

Dari pantauan di lapangan, material tanggul yang cuma berupa timbunan tanah dan bebatuan itu memang terlihat tak sanggup lagi. Derasnya arus kiriman dari hulu sungai dengan mudah menggerus dan merobohkannya.

Akibatnya, luapan Citarum tak terbendung. Ribuan rumah di sepanjang bantaran terendam, memaksa banyak keluarga angkat kaki. Mereka mengungsi secara mandiri, mencari tempat yang lebih tinggi untuk sekadar berteduh sementara.

Kekhawatiran itu belum juga reda. Menurut Minin, Ketua RT setempat, kondisi tanggul yang masih rapuh membuat warga memilih untuk tetap waspada.

“Warga memilih mengungsi sementara karena takut air naik lagi. Hujan masih sering turun, sementara tanggul masih rawan,”

ungkapnya, Selasa itu juga. Ancaman banjir susulan masih sangat nyata menggantung di atas kepala mereka.

Di tengah situasi serba terbatas, upaya gotong royong tetap berjalan. Warga bersama aparat setempat bahu-membahu melakukan penanganan darurat. Karung-karung diisi tanah, bambu disusun, dengan peralatan seadanya mereka berusaha membendung aliran agar tidak makin meluas. Sebuah perlawanan yang heroik, meski semua pihak sadar betul ini hanya solusi sesaat.

Kini, harapan terbesar warga Muara Gembong tertuju pada pemerintah. Mereka mendambakan penanganan yang cepat dan serius, bukan sekadar tambal sulam. Perbaikan tanggul secara menyeluruh adalah sebuah keharusan yang mendesak. Ribuan jiwa di bantaran Citarum masih terus menanti, dengan mata memandang langit yang kelabu, khawatir cuaca ekstrem akan kembali menguji ketahanan rumah dan tanggul mereka yang sudah porak-poranda.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar