Menteri HAM Pastikan Tiga Anak Korban Penembakan Sinak Jalani Perawatan Intensif

- Senin, 20 April 2026 | 18:15 WIB
Menteri HAM Pastikan Tiga Anak Korban Penembakan Sinak Jalani Perawatan Intensif

Jakarta - Kabar dari Sinak, Papua Tengah, memang memilukan. Menteri HAM Natalius Pigai, dalam jumpa pers di kantornya hari Senin, memastikan anak-anak korban penembakan di Kampung Kembru, Distrik Sinak, sudah mendapat perawatan intensif. Pemerintah daerah disebut telah memberikan perhatian penuh kepada mereka yang kini berada di rumah sakit.

"Yang anak-anak juga menjadi korban dan sekarang ada juga yang ada di rumah sakit sudah mendapat perhatian oleh pemerintah daerah," ujar Pigai.

Data yang berhasil dihimpun Kementerian HAM sendiri cukup mengerikan. Peristiwa baku tembak yang terjadi Selasa (14/4) itu menewaskan 15 warga sipil. Angka yang tak sedikit. Korban jiwa bukan satu-satunya duka. Tercatat tujuh warga Kembruk lainnya mengalami luka-luka akibat tertembak saat aparat dan kelompok TNPPB terlibat baku tembak.

Dari tujuh korban luka itu, tiga di antaranya adalah anak-anak. Sisanya orang dewasa. Soal apakah ada anak-anak yang menjadi korban meninggal, Pigai mengaku pihaknya belum bisa memastikan. "Sampai saat ini belum bisa dipastikan," katanya.

Namun begitu, peristiwa yang memakan korban warga sipil ini jelas telah menjadi perhatian serius Kementerian HAM. Mereka merasa perlu turun tangan. Upaya yang digelorakan adalah mengungkap kasus ini secara tuntas. Masyarakat, menurut Pigai, berhak tahu siapa pelaku dan apa motif di balik penembakan itu.

Langkah konkretnya? Kementerian HAM berupaya mengambil alih penanganan kasus. Tujuannya agar investigasi bisa berjalan transparan dan adil. Dengan cara itu, hasil penelusuran nantinya bisa diungkap ke publik tanpa ada selubung keraguan.

"Lebih baik Kementerian HAM mendahului cek data fakta informasi itu jauh lebih bagus," jelas Pigai menegaskan posisinya.

Di sisi lain, Pigai punya penilaian menarik. Ia meyakini masyarakat setempat sebenarnya sudah tahu siapa pelakunya. Soalnya, peristiwa itu terjadi antara pagi dan siang hari. Bukan di kegelapan malam. Karena itu, ia mendesak pihak yang terlibat untuk berani mengaku dan menjalani proses hukum. Hanya dengan cara itu keadilan di Papua bisa ditegakkan.

"Peristiwa itu terjadi siang hari pelakunya sudah tahu. Itu tidak bisa diperdebatkan," tegasnya.

Pigai kemudian menambahkan, "Pelakunya rakyat sudah tahu, mereka yang menjadi korban tahu, mereka yang ada di masyarakat lokasi tempat juga sudah tahu. Ya sekarang silakan, jangan sembunyikan, harus dibuka."

Permintaannya jelas: transparansi. Ia ingin semua pihak, terutama yang merasa bersalah, tidak bersembunyi di balik kebisuan. Pengakuan dan proses hukum adalah jalan satu-satunya untuk mengurai benang kusut ini dan mencegah luka serupa terulang di bumi Papua.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar