Laporan keuangan PT Wijaya Karya (WIKA) untuk tahun 2025 akhirnya terungkap. Hasilnya? Sebuah upaya keras untuk memperbaiki kondisi neraca, dengan fokus utama pada pengurangan utang. Sepanjang tahun lalu, perseroan berhasil memangkas beban utangnya hingga Rp3,87 triliun. Angka yang tidak kecil.
Rinciannya, penurunan itu berasal dari dua sumber. Utang berbunga berkurang Rp2,08 triliun, sementara utang usaha turun lebih drastis lagi, Rp1,79 triliun. Langkah ini jelas sebuah sinyal. WIKA berkomitmen menurunkan kewajiban dan berusaha menjaga keseimbangan arus kas, di tengah tekanan industri konstruksi yang tak mudah.
Namun begitu, perjalanan tahun 2025 ternyata tidak mulus. Pendapatan bersih perseroan anjlok cukup dalam, turun 31 persen menjadi Rp13,3 triliun. Imbasnya, profitabilitas tertekan dan WIKA harus menelan pil pahit rugi bersih yang membengkak hingga Rp9,75 triliun. Beban keuangan pun masih memberat, meski sudah turun 9,4 persen menjadi Rp2,97 triliun.
Kalau dilihat per akhir Desember 2025, total liabilitas WIKA tercatat Rp48,46 triliun. Memang turun 6 persen dari tahun sebelumnya. Tapi, ekuitasnya hanya Rp1,68 triliun. Kondisi ini mengindikasikan satu hal: operasional perusahaan masih sangat bergantung pada pendanaan dari utang.
Di sisi lain, arus kas dari aktivitas operasional juga bermasalah. Tahun 2025 malah defisit Rp348 miliar, padahal setahun sebelumnya masih positif Rp68 miliar. Untungnya, ada penarikan pinjaman dan pengembalian dana dari ventura bersama. Berkat itu, posisi kas akhir tahun bisa terjaga di level Rp2,75 triliun.
Menanggapi kondisi ini, Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyebut perusahaan tak tinggal diam.
Artikel Terkait
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WBSA Jadi Emiten IPO Pertama 2026, Harga Saham Perdana Rp168
WOM Finance Bagikan Dividen Rp46 Miliar, Cair Awal Mei 2026