PT BSA Logistics Indonesia, atau WBSA, resmi akan melantai di Bursa Efek Indonesia. Yang menarik, perusahaan logistik ini dipastikan menjadi emiten pertama yang melakukan penawaran saham perdana (IPO) di tahun 2026. Jadi, mereka yang buka tahun ini.
Kegiatan usahanya, sesuai namanya, berpusat pada jasa pengiriman barang. Mereka menangani pengapalan via darat, laut, dan udara. Tak cuma itu, WBSA juga mengelola fasilitas gudang dan terminal logistik, termasuk yang dikenal sebagai Inland Logistics Terminal (ILT).
Harga final untuk saham perdananya ditetapkan di angka Rp168 per lembar. Keputusan ini keluar dalam prospektus yang dirilis Kamis lalu, tanggal 2 April 2026. Angka itu sedikit di atas batas atas rentang harga penawaran awal, yang sebelumnya berada di kisaran Rp150 sampai Rp170.
Lantas, bagaimana harga itu bisa ditetapkan? Prosesnya melalui negosiasi dan kesepakatan antara perusahaan dengan para penjamin emisi. Mereka tentu saja mempertimbangkan hasil book building yang digelar akhir Maret lalu.
“Berdasarkan hasil penawaran awal tersebut di atas, harga penawaran berada di dalam kurva, maka harga penawaran telah sesuai,”
Begitu penjelasan manajemen WBSA dalam dokumen resminya. Selain hasil penawaran, faktor lain seperti kondisi pasar, kinerja keuangan, dan valuasi perusahaan juga jadi bahan pertimbangan.
Dana segar yang bakal diraup perseroan dari aksi korporasi ini cukup signifikan. WBSA akan melepas 1,8 juta saham baru, setara 20,75% dari modal ditempatkannya. Dengan harga Rp168 per saham, dana yang terkumpul sebelum dipotong biaya emisi mencapai Rp304 miliar.
Masa penawaran umumnya sendiri berlangsung mulai 2 hingga 8 April mendatang. Jika tak ada aral melintang, pencatatan resmi saham WBSA di papan perdana BEI akan dilakukan pada 10 April 2026.
Untuk urusan penjaminan emisi, WBSA menggandeng tiga sekuritas. OCBC Sekuritas dan Semesta Indovest Sekuritas bertindak sebagai penjamin pelaksana, sementara Indo Capital Sekuritas sebagai penjamin emisi. Dari segi porsi, Semesta Indovest mendapat jatah terbesar, yakni 72,07%. OCBC menyusul dengan 27,83%, dan Indo Capital mendapatkan 0,10%.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Perluasan B50, Produsen Filter Lokal Luncurkan Produk Khusus Atasi Tantangan Teknis Biodiesel
Wall Street Mendekati Rekor Tertinggi, Optimisme AI Redam Kekhawatiran Konflik Iran
BSI Maslahat dan MyFundAction Jalin Kerja Sama Optimalkan Distribusi Dana ZIS Berpotensi Rp300 Triliun per Tahun
Laporan Keuangan Gabungan Seluruh BUMN di Bawah Danantara Baru Rampung Akhir Kuartal III 2026