Prabowo di Banjarbaru: Kritik Pedas Disebut Didanai Kekuatan Asing

- Selasa, 13 Januari 2026 | 09:00 WIB
Prabowo di Banjarbaru: Kritik Pedas Disebut Didanai Kekuatan Asing

Di bawah terik matahari Banjarbaru, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sesuatu yang sudah lama mengendap di pikirannya. Saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat, Senin lalu, pidatonya tak hanya tentang pendidikan. Ada nada lain yang muncul, sebuah keyakinan yang ia pegang erat tentang sumber kritik yang kerap menghampirinya.

Menurut Prabowo, hanya segelintir orang yang aktif mengejek dan menyebarkan pandangan pesimis terhadap pemerintahannya. Namun, suara kelompok kecil ini terdengar begitu lantang. "Banyak orang mengejek saya. Sebetulnya nggak banyak, segelintir orang aja," ujarnya.

Lalu, dengan nada tegas, ia menyambung, "Hanya dia mungkin punya uang, dia punya sarana, dia bisa menyebarkan sinisme, pesimisme, kemungkinan besar mereka dibayar oleh kekuatan-kekuatan asing. Itu keyakinan saya, kepercayaan saya."

Pernyataan itu bukan hal baru. Sejak awal, Prabowo kerap mengingatkan publik tentang bahaya intervensi pihak luar.

Ambil contoh pidatonya pada upacara Hari Lahir Pancasila, 2 Juni 2025 silam. Di Gedung Pancasila Jakarta, ia secara gamblang menuding ada LSM di Indonesia yang didanai asing dengan tujuan mengadu domba. Pesannya waktu itu jelas: rakyat harus bersatu, jangan sampai terpecah oleh pengaruh dari luar. Ia bahkan menegaskan bahwa upaya pecah belah ini sudah berlangsung ratusan tahun, sebuah pola lama yang terus berulang.

Di sisi lain, tanggapan di dunia maya tak selalu sejalan. Sebuah cuitan di media sosial, misalnya, menyoroti dengan nada sinis. "Krn ketololannya dlm memimpin lalu nyalahkan osang asing melulu... Aki2 emang gitu kadang lucu," tulis salah satu akun. Reaksi seperti ini menunjukkan bahwa narasi tentang campur tangan asing tidak serta merta diterima begitu saja oleh semua kalangan.

Pidato di Banjarbaru itu, pada akhirnya, mempertegas garis politik yang diusung Prabowo. Di satu sisi, ia membangun infrastruktur pendidikan. Di sisi lain, ia juga terus membangun benteng narasi, bahwa tantangan terbesar bukan hanya dari dalam, tetapi juga dari pihak-pihak yang ia sebut "kekuatan asing".

Bagaimana pun, pernyataannya itu pasti akan terus bergaum. Menjadi bahan diskusi, dukungan, sekaligus cibiran. Seperti biasa.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar