Bantuan pangan untuk bulan Februari dan Maret 2026 masih belum terdistribusi. Padahal, stoknya katanya sudah siap. Alex Indra Lukman, Wakil Ketua Komisi IV DPR, mendesak Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk segera bergerak. Menurutnya, ada sekitar 33,2 juta keluarga di seluruh Indonesia yang sedang menunggu bantuan itu.
"Stok beras dan minyak goreng sebenarnya tak ada masalah. Persediaannya sangat memadai," tegas Alex dalam sebuah keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).
Ia punya pesan tegas untuk pemerintah. "Kita minta Bapanas untuk tidak lagi menunda-nunda penyaluran Bapang periode Februari dan Maret ini."
Yang jadi ganjalan, keputusan untuk menyalurkan bantuan ini sebenarnya sudah bulat. Rapat High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) pada akhir Januari lalu di Jakarta sudah menyepakatinya. Rapat yang dipimpin Kemenko Perekonomian itu memutuskan penyaluran dilakukan sekali untuk jatah dua bulan sekaligus.
Tak hanya itu, cakupan penerimanya juga diperluas. Kali ini, bantuan akan menyasar masyarakat dari desil I hingga IV, mirip dengan skema penerima BLTS Kesra. Jadi, jaring pengaman sosialnya lebih luas dari sebelumnya.
Bagi Alex, momentum penyaluran ini krusial. "Beras 10 kg dan minyak goreng 2 liter per bulan itu bisa meredam gejolak harga, apalagi di bulan Ramadhan dan mendekati Lebaran 1447 H," ujarnya. Politikus PDI Perjuangan asal Sumbar ini mengingatkan, bantuan ini sangat dinantikan. "Jangan biarkan masyarakat menunggu janji pemerintah terlalu lama," tambahnya.
Angkanya memang tak kecil. Untuk dua bulan itu, Bulog akan menyalurkan sekitar 664,8 ribu ton beras dan 132,9 ribu kiloliter minyak goreng. Jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tahun 2026 ini melonjak signifikan, naik 81,9 persen dibanding program serupa sebelumnya yang hanya menjangkau 18,2 juta KPM per bulan.
Demi program ini, pemerintah menyiapkan anggaran yang fantastis: hampir Rp 12 triliun. Alex meyakini, selain mengendalikan inflasi dengan menstabilkan harga sembako, Bapang juga punya peran ganda. Bantuan ini diharapkan bisa membantu kebutuhan selama Ramadan, meringankan beban hari raya, dan sekaligus menjaga daya beli masyarakat secara keseluruhan.
Sebelumnya, program serupa di tahun 2025 berjalan dalam dua tahap. Tahap pertama di pertengahan tahun hanya berupa beras. Lalu, di akhir tahun, paketnya ditambah dengan minyak goreng. Efeknya ternyata cukup terasa.
Badan Pusat Statistik (BPS) pernah mencatat dampak positif bantuan pangan beras terhadap angka kemiskinan. Pada Maret 2024, persentase penduduk miskin tercatat 9,03 persen. Angka itu menunjukkan penurunan dibanding periode-periode sebelumnya. Program ini, meski terlihat sederhana, nyatanya punya andil dalam perbaikan kondisi sosial.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Akan Naikkan Tarif Transjabodetabek dan Bus Bandara Soekarno-Hatta, Subsidi APBD Dinilai Terlalu Tinggi
Yordania Hukum Mati Warga yang Bunuh Tiga Aparat dalam Penggerebekan Narkoba
SMA Triguna 1956 Gelar Tri Art Festival, Implementasi Project Based Learning untuk Asah Keterampilan Abad 21
Hakim Vonis 1,5 Tahun Penjara Pemilik WO Ayu Puspita, Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa