Jakarta, akhir Februari lalu, pemerintah melalui Kemnaker resmi membuka pendaftaran untuk Program Pelatihan Vokasi Nasional 2026. Targetnya? Para lulusan SMA, SMK, dan sederajat yang baru saja mengakhiri masa sekolah. Rencananya, pelatihan bakal digelar mulai April 2026 nanti.
Menariknya, program ini tak cuma skala besar, tapi juga tersebar luas. Pelaksanaannya akan dilakukan di 33 UPT Balai Pelatihan Vokasi dan Satpel Kemnaker, yang lokasinya menjangkau berbagai provinsi di Indonesia. Jadi, aksesnya diharapkan bisa lebih merata.
Dalam konferensi pers peluncurannya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan skalanya.
"Program ini terbagi dalam tiga batch. Setiap batchnya menampung sekitar 20 ribu peserta, sehingga totalnya bisa mencapai 70 ribu orang dalam setahun," jelas Airlangga, Jumat (27/2/2026).
"Ke depannya, kami harap kuota ini bisa terus ditingkatkan," tambahnya.
Nah, apa sih sebenarnya tujuan utama program ini? Intinya adalah membekali peserta dengan keterampilan yang tepat. Istilah kerennya: skilling, upskilling, dan reskilling. Semua itu dijalankan dengan prinsip link and match, yang coba memastikan kurikulum pelatihan benar-benar nyambung dengan kebutuhan industri saat ini.
Dengan pendekatan seperti ini, diharapkan lulusannya nanti punya kompetensi yang relevan dan adaptif. Singkatnya, mereka disiapkan untuk langsung terjun ke pasar kerja yang memang membutuhkan.
Lalu, siapa yang bisa mendaftar? Syaratnya cukup jelas: lulusan SMA/SMK/MA (atau sederajat) maksimal tiga tahun terakhir, usia minimal 17 tahun, dan sudah punya akun SiapKerja. Bagi yang berminat, pendaftaran dilakukan melalui portal skillhub.kemnaker.go.id.
Manfaat untuk pesertanya juga cukup menggiurkan. Selain dapat sertifikat pelatihan dan kompetensi dari BNSP, mereka juga berhak mendapat bantuan transportasi Rp20 ribu per hari selama pelatihan, serta iuran JKK dan JKM. Bahkan, untuk peserta dari luar kota, tersedia fasilitas asrama pada pelatihan tertentu.
Kalau dilihat dari data, program ini sepertinya sangat dibutuhkan. Jumlah lulusan SMA/SMK tahun ajaran 2024/2025 saja mencapai 3,28 juta jiwa. Sementara itu, data BPS menunjukkan kontribusi besar mereka di dunia kerja: lulusan SMA menyumbang 20,99% dari total pekerja nasional, dan lulusan SMK sekitar 14%. Gabungan keduanya mencapai 35% dari total angkatan kerja kita.
Jadi, wajar jika program vokasi mendapat perhatian serius.
Pilihan bidang pelatihannya pun beragam banget. Mulai dari yang teknis seperti Teknologi Informasi, Otomotif, hingga Kelistrikan. Ada juga yang terkait tren kekinian seperti Pemasaran Digital, Keamanan Siber, sampai Kendaraan Listrik. Tak ketinggalan pelatihan prioritas Presiden, semisal Koperasi Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis.
Secara keseluruhan, ada lebih dari 820 kelas yang fokus pada 31 kejuruan. Metodenya fleksibel, bisa luring, daring, atau hybrid.
Menurut Airlangga, program ini sejalan dengan program magang yang sudah berjalan, dan memang dikhususkan untuk lulusan SMA/SMK.
"Kami apresiasi Kemnaker. Semoga program ini bisa dimanfaatkan para pelajar untuk mempersingkat jarak antara bangku sekolah dan dunia kerja," ujarnya.
"Program ini akan terus kami dorong dan sempurnakan, sesuai arahan Bapak Presiden," pungkas Airlangga.
Artikel Terkait
Andri Pratiwa Ditunjuk Pimpin Shell Indonesia, Fokus Beralih ke Bisnis Pelumas
BPS Ungkap Kuota PBI BPJS Tak Mampu Cover 140 Juta Warga Berhak
Dirut BTN Khawatir Aturan Baru SLIK Bisa Picu Risiko KPR Bermasalah
Timnas Indonesia U-17 Hadapi Malaysia di Laga Krusial Piala AFF Malam Ini