Jakarta – Pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar soal zakat sempat ramai. Potongan videonya beredar luas, memicu tanya. Namun, konteksnya ternyata jauh lebih luas dan mendalam.
Semuanya bermula dari Sarasehan 99 Ekonom Syariah, 24 Februari lalu. Di sana, Menag justru mengajak umat Islam, terutama yang berkecukupan, untuk berpikir lebih jauh. Jangan cuma puas memenuhi kewajiban minimal, yaitu zakat 2,5%. Itu intinya.
Menurut Thobib Al Asyhar, Kepala Biro Humas Kemenag, video viral itu terpotong. “Kalau disimak utuh, maksud beliau jelas: ajakan untuk lebih dermawan,” katanya melalui keterangan tertulis, Kamis (26/2).
Thobib menjelaskan, Menag ingin potensi ekonomi umat yang besar itu benar-benar hidup. Kalau cuma terpaku pada angka 2,5%, ya nggak akan berkembang. Semangatnya harus melampaui itu.
“Jika umat Islam hanya terpaku pada angka 2,5%, potensi ekonomi umat yang sangat besar tidak mengejawantah. Menag ingin menekankan bahwa kedermawanan Muslim harus jauh melampaui angka tersebut,” ujar Thobib.
Dia melanjutkan, sejarah Islam sendiri mengajarkan memberi tanpa batas. “Pada masa Nabi dan Sahabat, semangat yang dibangun adalah sedekah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban tahunan,” tambahnya.
Nah, di sisi lain, ada poin kemanusiaan yang ditekankan. Zakat memang punya aturan ketat tentang siapa yang berhak menerima (ashnaf). Tapi, masalah di dunia ini nggak cuma dialami oleh golongan itu saja.
Artikel Terkait
Masjid Jami Koba: Saksi Bisu Sejarah di Balik Renovasi Megah
Jadwal Imsak dan Waktu Salat untuk Jayapura Hari Ini, 27 Februari 2026
Donny Warmerdam Akhirnya Kembali Bermain Setelah Cedera 6 Bulan
Gempa Magnitudo 4,1 Guncang Laut di Maluku Barat Daya