Ambil contoh pidatonya pada upacara Hari Lahir Pancasila, 2 Juni 2025 silam. Di Gedung Pancasila Jakarta, ia secara gamblang menuding ada LSM di Indonesia yang didanai asing dengan tujuan mengadu domba. Pesannya waktu itu jelas: rakyat harus bersatu, jangan sampai terpecah oleh pengaruh dari luar. Ia bahkan menegaskan bahwa upaya pecah belah ini sudah berlangsung ratusan tahun, sebuah pola lama yang terus berulang.
Di sisi lain, tanggapan di dunia maya tak selalu sejalan. Sebuah cuitan di media sosial, misalnya, menyoroti dengan nada sinis. "Krn ketololannya dlm memimpin lalu nyalahkan osang asing melulu... Aki2 emang gitu kadang lucu," tulis salah satu akun. Reaksi seperti ini menunjukkan bahwa narasi tentang campur tangan asing tidak serta merta diterima begitu saja oleh semua kalangan.
Pidato di Banjarbaru itu, pada akhirnya, mempertegas garis politik yang diusung Prabowo. Di satu sisi, ia membangun infrastruktur pendidikan. Di sisi lain, ia juga terus membangun benteng narasi, bahwa tantangan terbesar bukan hanya dari dalam, tetapi juga dari pihak-pihak yang ia sebut "kekuatan asing".
Bagaimana pun, pernyataannya itu pasti akan terus bergaum. Menjadi bahan diskusi, dukungan, sekaligus cibiran. Seperti biasa.
Artikel Terkait
Kementan Tegaskan Komitmen Jaga Peternak dan Pertahankan HET
APPSI Perkuat Peran Stabilisasi Harga Pangan Dukung Program Pemerintah
Dua Pria Bersenjata Celurit Rampok Minimarket di Palangka Raya
Lechumanan Desak Polisi Tahan Roy Suryo, Kubu Jokowi Serahkan ke Jalur Hukum