Persebaya Menang, Namun Performa Kiper dan Lini Belakang Masih Jadi Titik Rapuh

- Jumat, 27 Februari 2026 | 21:30 WIB
Persebaya Menang, Namun Performa Kiper dan Lini Belakang Masih Jadi Titik Rapuh

Ernando dan Mistar Gawang Persebaya: Titik Rapuh yang Bikin Bonek Gelisah

Persebaya menang 1-0 atas PSM Makassar, tapi suasana di Surabaya belum sepenuhnya lega. Bayang-bayang kekalahan 3-1 dari Persijap masih membekas. Kemenangan itu rasanya seperti obat pereda, bukan penyembuh. Pertanyaan lama pun mengemuka lagi: seberapa aman sebenarnya gawang Green Force?

Mari kita lihat laga kontra Persijap. Ernando Ari, sosok yang beberapa musim belakangan kerap jadi penyelamat, kali ini dapat nilai rendah: 5,8. Ia terlihat kurang sigap. Terutama saat membaca situasi pada gol kedua dan di fase-fase akhir pertandingan. Kritik mulai berdatangan. Ini bukan serangan pribadi, tapi lebih pada refleksi. Refleksi bahwa mungkin sudah waktunya ada regenerasi atau setidaknya kompetisi serius di posisi kiper.

Masalahnya nggak cuma di situ. Lini belakang juga tampak goyah. Koordinasi antara Leo Lelis dan Jefferson Silva beberapa kali hilang. Kesalahan-kesalahan kecil yang berulang itu memberi ruang bagi Persijap untuk menyerang dengan efisien. Saat pertahanan goyah, tekanan terberat otomatis jatuh ke satu orang: sang penjaga gawang.

Di sinilah persoalan Persebaya kelihatan jelas. Sistem bertahan mereka belum solid untuk melindungi kiper. Sementara itu, rotasi di posisi kiper sendiri nyaris tak pernah terjadi. Situasinya jadi serba salah.

Yang ironis, di tengah rapuhnya pertahanan, lini depan justru menunjukkan taring. Bruno Moreira jadi denyut nadi serangan. Gol penaltinya di menit 90 4 sempat menyalakan harapan sekaligus menegaskan satu hal: dialah pemain paling konsisten musim ini. Nilai 8,9 yang diraihnya jadi kontras banget dengan performa lini belakang.

Francisco Rivera di lini tengah bermain kreatif. Gustavo Fernandes juga agresif membantu serangan. Tapi sepak bola nggak cuma soal menyerang, kan? Ketika keseimbangan hilang, produktivitas di depan jadi terasa sia-sia.

Kartu merah Rachmat Irianto di menit ke-86 makin mempercepat keruntuhan momentum. Main dengan sepuluh orang di fase akhir bikin struktur tim buyar. Gol ketiga Persijap di menit 90 11 jadi penutup yang pahit. Bukan cuma karena selisih skor, tapi karena datang tepat saat harapan baru aja tumbul.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar