Indeks manajer pembelian (purchasing manager’s index/PMI) sektor manufaktur Indonesia pada Mei 2026 tercatat berada di angka netral 50,0, naik tipis dibandingkan posisi April yang menyentuh 49,1. Angka ini, berdasarkan data survei terbaru dari S&P Global, menandakan bahwa kondisi industri pengolahan dalam negeri mulai menunjukkan titik stabil setelah sebelumnya mengalami kontraksi ringan.
Kenaikan tipis tersebut terutama didorong oleh perbaikan permintaan domestik. Pada bulan lalu, sektor manufaktur mencatat peningkatan pesanan baru, yang menurut para analis lebih banyak berasal dari pasar dalam negeri. Namun, di sisi lain, kinerja penjualan internasional justru menunjukkan tren sebaliknya. Ekspor manufaktur Indonesia tercatat mengalami penurunan selama tiga bulan beruntun, dengan tingkat kontraksi paling tajam sejak Agustus 2021.
Bukti anekdotal dari para pelaku industri mengindikasikan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga komoditas global menjadi faktor utama yang membebani permintaan asing. Meskipun ada peningkatan pesanan baru, volume produksi pada Mei justru kembali tertekan. Output manufaktur tercatat turun untuk tiga bulan berturut-turut, meskipun laju penurunannya lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Kendala utama berasal dari harga bahan baku yang terus merangkak naik dan ketersediaan pasokan yang terbatas.
Dari sisi harga, tekanan inflasi biaya input masih cukup besar dan kembali meningkat. Sejumlah panelis dalam survei melaporkan kenaikan harga bahan baku yang signifikan. Untuk mempertahankan margin, perusahaan-perusahaan berupaya meneruskan beban biaya tersebut kepada konsumen. Akibatnya, harga output naik dengan laju tercepat sejak Oktober 2013, menambah beban daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi.
“Perekonomian manufaktur Indonesia masih mengalami tekanan selama Mei, karena produksi terhambat oleh kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan ketersediaan input. Meskipun perusahaan mencatat kenaikan penjualan yang lebih kuat, hal ini sering kali menggambarkan upaya klien untuk membangun stok di tengah gangguan harga dan pasokan,” ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam pernyataan resminya pada Selasa (2/6/2026).
Kondisi tersebut turut menghambat aktivitas pembelian di sektor manufaktur. Banyak perusahaan melaporkan bahwa mereka terpaksa menggunakan inventaris pra-produksi yang ada akibat kesulitan mendapatkan bahan baku baru. Sementara itu, keterbatasan produksi juga memaksa pabrik untuk memanfaatkan stok barang jadi yang tersedia demi memenuhi pesanan yang masuk. Dari segi rantai pasok, waktu pemenuhan pesanan rata-rata terus mengalami perpanjangan selama delapan bulan berturut-turut. Penundaan pengiriman dan kelangkaan barang, yang sebagian besar dipicu oleh konflik global, masih menjadi beban utama bagi kinerja para pemasok.
Artikel Terkait
Gempa M5,1 Guncang Sarmi, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Imam Besar Masjid Al Aqsa Kecam Rencana Israel Larang Azan di Yerusalem Timur
BGN Percepat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Libatkan Kementerian hingga Perangkat Desa
Meteor Meledak di Langit AS Timur Laut, Guncang Rumah Warga Tanpa Timbulkan Korban