China, sekutu Iran dari timur, tak ragu menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai biang kerok di balik penutupan Selat Hormuz. Menurut mereka, serangan yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv terhadap Tehran-lah yang memicu blokade di jalur laut vital itu.
Seperti kita tahu, Selat Hormuz bukan sembarang perairan. Ini adalah urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia. Nah, sejak awal Maret lalu, aktivitas di sana praktis macet. Imbasnya langsung terasa: ongkos kirim melambung dan harga minyak global ikut terdongkrak. Semua ini berpangkal dari konflik berkepanjangan antara AS serta Israel melawan Iran.
Di sisi lain, dari Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump punya pandangan lain. Dalam pidatonya Rabu (1/4) malam, ia menyoroti tanggung jawab negara-negara pengimpor minyak.
"Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut," tegas Trump.
Artikel Terkait
Polisi Buru Tiga Pelaku Bacok di Cilandak Usai Keributan Berawal dari Medsos
Kemendikbud Luncurkan Dana IndonesiaRaya, Salurkan Rp594 Miliar untuk 3.036 Penerima
Inggris Pimpin 37 Negara Bahas Pembukaan Kembali Selat Hormuz, AS dan China Absen
Libur Panjang, Gerbang Tol Pasteur Macet Parah hingga ke Dalam Kota Bandung