China, sekutu Iran dari timur, tak ragu menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai biang kerok di balik penutupan Selat Hormuz. Menurut mereka, serangan yang dilancarkan Washington dan Tel Aviv terhadap Tehran-lah yang memicu blokade di jalur laut vital itu.
Seperti kita tahu, Selat Hormuz bukan sembarang perairan. Ini adalah urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia. Nah, sejak awal Maret lalu, aktivitas di sana praktis macet. Imbasnya langsung terasa: ongkos kirim melambung dan harga minyak global ikut terdongkrak. Semua ini berpangkal dari konflik berkepanjangan antara AS serta Israel melawan Iran.
Di sisi lain, dari Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump punya pandangan lain. Dalam pidatonya Rabu (1/4) malam, ia menyoroti tanggung jawab negara-negara pengimpor minyak.
"Negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut," tegas Trump.
"Kita akan membantu, tetapi mereka harus memimpin dalam melindungi minyak yang sangat mereka andalkan," lanjutnya.
Bahkan, ia mendesak negara-negara yang bergantung pada selat itu untuk bertindak lebih agresif. "Rebut saja, lindungi, gunakan untuk diri Anda sendiri," ucap Trump dengan nada khasnya.
Trump juga melempar optimisme. Menurutnya, begitu perang usai, Selat Hormuz akan "secara alami" terbuka kembali. Ia meramalkan harga gas akan segera turun. Namun begitu, pernyataan ini diragukan banyak pihak. Jaringan berita CNN, misalnya, melaporkan bahwa para ekonom dan analis justru membantah klaim tersebut. Realitasnya, kata mereka, tak semudah itu.
Artikel Terkait
Iran Tangguhkan Peran Mediasi Damai dengan AS sebagai Respons atas Invasi Israel ke Lebanon
10 Warga Keracunan Asap Kebakaran Pasar Jiung Kemayoran, Dilarikan ke RS
Ledakan Bom Sisa Perang Dunia II di Biak Numfor Tewaskan Lima Warga, Tiga Lainnya Hilang
Menteri Haji Lepas Kloter Pertama Jemaah Haji Indonesia dari Jeddah, Sampaikan Permohonan Maaf