Operasi Ketupat 2026 dinilai berjalan dengan baik. Itulah kesimpulan riset akademik yang dipaparkan oleh Prof. Albertus Wahyurudhanto, Guru Besar Tetap STIK Lemdiklat Polri. Menariknya, riset ini tak cuma mengandalkan satu metode, tapi menggabungkan tiga sumber data berbeda untuk mendapatkan gambaran yang objektif.
“Hasil riset menunjukkan bahwa pelaksanaan Operasi Ketupat berjalan dengan baik,” ujar Prof. Albertus dalam audiensi Evaluasi Operasi Ketupat 2026 bersama Kakorlantas Polri, Kamis lalu.
Namun begitu, ia juga menyisipkan catatan. Menurutnya, masih ada konsentrasi petugas yang terlalu fokus di jalur darat. Padahal, kendala kerap muncul di titik-titik lain seperti pelabuhan atau rest area.
Riset yang ia pimpin itu sendiri cukup komprehensif. Mereka melakukan survei persepsi terhadap 3.200 responden yang diambil dari 8 Polda. Data operasional dari posko, termasuk soal pergerakan kendaraan dan kecelakaan, juga dikumpulkan. Tak ketinggalan, pendapat para ahli dianalisis menggunakan metode Delphi untuk menguji temuan di lapangan.
Mayoritas responden survei adalah laki-laki (71,91%), dengan kelompok usia 36-45 tahun mendominasi. Sebagian besar berpendidikan SMA dan tersebar merata, sekitar 400 orang per Polda.
Di sisi lain, ada kemajuan yang patut diapresiasi. Prof. Albertus menyoroti sistem pemantauan yang kini berjalan real-time. “Jika sebelumnya evaluasi hanya pada aspek pelayanan, kini kepolisian mulai beralih ke strategi predictive traffic policing yang berbasis data,” jelasnya.
Strategi berbasis data ini, menurutnya, punya dampak lebih luas. Bukan cuma soal teknis operasi, tapi juga membangun pemahaman publik. Rekayasa lalu lintas akhirnya dipandang bukan sekadar kewajiban polisi, melainkan sebuah kebutuhan bersama untuk keselamatan dan kelancaran perjalanan.
Angka Kecelakaan Turun, Kepuasan Masyarakat Melonjak
Penilaian positif juga datang dari pengamat. Tulus Abadi, yang konsen pada perlindungan konsumen dan kebijakan publik, menyoroti pencapaian nyata Operasi Ketupat tahun ini.
“Operasi Ketupat tahun 2026 saya kira sudah mengeluarkan instrumen-instrumen yang sangat membantu,” kata Tulus dalam forum yang sama.
Ia menyebut angka kecelakaan berhasil ditekan hingga 30 persen. Sementara itu, tingkat kepuasan masyarakat yang tercatat mencapai 94 persen menjadi indikator kuat bahwa pengamanan dan pelayanan untuk pemudik berjalan efektif.
“Dari survei menunjukan dari 94% masyarakat puas dengan operasi ketupat yang ini harus kita jaga dan terus kita tingkatkan,” tegasnya.
Instrumen seperti sistem satu arah atau one way disebutnya sangat membantu kelancaran arus mudik dan balik. Kebijakan ini bahkan berpeluang untuk dijadikan permanen, dengan petunjuk arah di jalan tol yang perlu ditingkatkan.
Harapannya jelas. Kepercayaan dan kepuasan masyarakat yang sudah terbangun ini bisa dipertahankan, agar perjalanan mudik di tahun-tahun mendatang semakin aman dan nyaman bagi semua.
Artikel Terkait
Pemabuk Diamuk Massa di Tangsel Usai Diduga Lecehkan Anak 9 Tahun
Kondisi Anggota DPR Gus Hilman Berangsur Membaik, Dijadwalkan Jalani Operasi Panggul
Gunung Bromo Ditutup Total 30 Mei–2 Juni 2026 untuk Ritual Yadnya Kasada
Malaysia Akan Bawa Israel ke Mahkamah Internasional atas Dugaan Penculikan dan Penyiksaan Aktivis Flotila Gaza