Jakarta - Industri plastik dalam negeri sedang menghadapi masa sulit. Pasokan bahan baku utama, nafta, yang banyak diimpor dari Timur Tengah, tiba-tiba menjadi langka. Situasi ini membuat Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) angkat bicara. Mereka tak cuma khawatir soal produksi, tapi juga mewanti-wanti bakal ada kelangkaan kemasan plastik di pasar.
Fajar Budiono, Sekjen Inaplas, punya imbauan langsung buat kita semua: coba kurangi pemakaian plastik. “Jadi jangan sampai berlebihan juga untuk menggunakan plastik,” ujarnya.
Misalnya saat belanja, kita nggak perlu minta kantong plastik untuk setiap barang. Intinya, gunakan seperlunya saja.
Permintaannya sederhana tapi mendesak. Menurut MURIANETWORK.COM, situasi kelangkaan dan lonjakan harga ini belum jelas kapan berakhir, didorong oleh ketidakpastian global yang makin runyam. Produsen sendiri sedang dalam posisi serba hati-hati. Mereka enggan mengambil risiko dengan menimbun stok bahan baku saat harganya melambung tinggi. Trauma masa lalu masih membayangi.
“Kalau kami lihat tahun 2008 itu harga bisa sampai 2.100 dolar AS per metric ton, tapi tiba-tiba besok turun jadi 1.200. Sehingga yang pegang stok rugi banyak dan banyak yang tutup,” tutur Fajar.
Itulah yang berusaha dihindari sekarang. Ketidakpastian saat ini, kata dia, benar-benar di luar kendali dan sulit diprediksi.
Data dari Trading Economics seolah mengonfirmasi kekhawatiran itu. Per 6 April 2026, harga nafta menyentuh 995,66 dolar AS per ton. Naik tipis 1,08 persen dalam sehari. Tapi dalam sebulan, kenaikannya mencapai hampir 28 persen. Bahkan dibanding tahun lalu, harganya sudah melonjak lebih dari 86 persen. Angka-angka yang cukup untuk membuat pelaku industri pusing.
Artikel Terkait
Bank Mandiri Salurkan Kredit Infrastruktur Rp491,63 Triliun, Tumbuh 31%
BNN Usulkan Larangan Total Vape, Temukan 35 Sampel Cairan Positif Narkoba
Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert Kembali ke Indonesia untuk Agenda Non-Pelatihan
Menteri Keuangan: Keputusan Harga BBM Subsidi Berasal dari Arahan Langsung Presiden