Jakarta, Selasa siang itu, cuaca di kompleks Istana terik. Tapi panasnya mungkin tak sebanding dengan sorotan wartawan yang menunggu komentar resmi soal rupiah, yang baru saja menembus level psikologis Rp17.000. Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian, akhirnya memberikan tanggapannya. Menurutnya, tekanan yang dirasakan rupiah bukanlah hal yang unik.
"Itu bukan hanya rupiah, berbagai currency lain kan demikian," ujar Airlangga, merujuk pada pelemahan yang juga dialami banyak mata uang negara lain.
Memang, tekanan terhadap rupiah sudah terasa sejak sesi perdagangan siang. Geraknya cukup tajam, sempat melemah 75 poin sebelum akhirnya ditutup di kisaran Rp17.105 per dolar AS. Suasana pasar jelas tegang.
Namun begitu, tampaknya pemerintah sudah mengantisipasi kemungkinan ini. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan tenang menegaskan bahwa pelemahan hingga level Rp17.100 ini sudah masuk dalam hitungan simulasi mereka. Artinya, goncangan ini tak serta-merta bakal mengacaukan postur anggaran negara.
Purbaya menjelaskan, dalam penyusunan anggaran, timnya tidak kaku pada satu angka asumsi saja. Mereka sudah menaikkan parameter simulasi ke level tertentu untuk berjaga-jaga menghadapi gejolak yang tak terduga.
"Nggak, saya tekankan dulu ya," jelas Purbaya saat berbincang dengan media di kantin Kemenkeu. "Angka simulasi itu Rupiah-nya bukan Rupiah di APBN yang sebelumnya, sudah dinaikkan ke level tertentu, jadi itu masih termasuk dalam itungan skenario."
Artikel Terkait
Black Diamond Resources (COAL) Merambah Bisnis Maritim dengan Bentuk Anak Usaha
IHSG Ditutup Turun 0,44% ke 6.958,47 Didominasi Tekanan Jual
IHSG Anjlok ke 6.971, Mayoritas Sektor Tergerus Tekanan Jual
Rupiah Melemah ke Rp17.105, Tertekan Gejolak Timur Tengah dan Beban Subsidi