Lantas, apa pemicu utamanya? Fajar menyoroti ketegangan geopolitik yang memanas. Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran disebutnya semakin meruncing. Efek domino-nya langsung terasa: distribusi rantai pasok dari Timur Tengah tersendat, terutama setelah penutupan Selat Hormuz. Jalur vital itu macet, dan barang pun tertahan.
Akibatnya, para produsen terpaksa bertahan dengan bahan baku sisa. Produksi dilakukan secara sangat terbatas. “Karena memang barangnya yang ada terbatas,” ucap Fajar. Mereka berusaha mengatur agar stok yang ada tidak habis dalam 50 hari ke depan.
Di sisi lain, industri tidak tinggal diam. Berbagai penyesuaian produksi dilakukan. Mulai dari mencari sumber bahan baku alternatif, mengatur ulang ukuran kemasan plastik, hingga berinovasi dengan material daur ulang.
Salah satu strateginya adalah menaikkan kandungan daur ulang yang dicampur dengan material baru (virgin). Cara ini digadang-gadang bisa menekan biaya produksi, sekaligus jadi solusi alternatif di tengah kelangkaan.
Tapi semua adaptasi itu punya konsekuensi. Produsen tidak menampik bahwa kenaikan harga produk plastik di pasaran akan terjadi. Kemungkinan besar, efeknya akan terasa setelah Idulfitri nanti. Dan kenaikannya, disebutkan, “dalam kisaran yang tidak sedikit.”
Fajar menegaskan, pasar sedang menuju titik keseimbangan baru. “Enggak mungkin harga kembali lagi seperti sebelum krisis perang ini,” ucapnya. Era harga murah untuk plastik, setidaknya untuk sementara, tampaknya akan berakhir.
Artikel Terkait
Bank Mandiri Salurkan Kredit Infrastruktur Rp491,63 Triliun, Tumbuh 31%
BNN Usulkan Larangan Total Vape, Temukan 35 Sampel Cairan Positif Narkoba
Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert Kembali ke Indonesia untuk Agenda Non-Pelatihan
Menteri Keuangan: Keputusan Harga BBM Subsidi Berasal dari Arahan Langsung Presiden