Inaplas Imbau Hemat Plastik Imbas Kelangkaan Nafta dan Ancaman Kenaikan Harga

- Selasa, 07 April 2026 | 15:30 WIB
Inaplas Imbau Hemat Plastik Imbas Kelangkaan Nafta dan Ancaman Kenaikan Harga

Lantas, apa pemicu utamanya? Fajar menyoroti ketegangan geopolitik yang memanas. Perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran disebutnya semakin meruncing. Efek domino-nya langsung terasa: distribusi rantai pasok dari Timur Tengah tersendat, terutama setelah penutupan Selat Hormuz. Jalur vital itu macet, dan barang pun tertahan.

Akibatnya, para produsen terpaksa bertahan dengan bahan baku sisa. Produksi dilakukan secara sangat terbatas. “Karena memang barangnya yang ada terbatas,” ucap Fajar. Mereka berusaha mengatur agar stok yang ada tidak habis dalam 50 hari ke depan.

Di sisi lain, industri tidak tinggal diam. Berbagai penyesuaian produksi dilakukan. Mulai dari mencari sumber bahan baku alternatif, mengatur ulang ukuran kemasan plastik, hingga berinovasi dengan material daur ulang.

Salah satu strateginya adalah menaikkan kandungan daur ulang yang dicampur dengan material baru (virgin). Cara ini digadang-gadang bisa menekan biaya produksi, sekaligus jadi solusi alternatif di tengah kelangkaan.

Tapi semua adaptasi itu punya konsekuensi. Produsen tidak menampik bahwa kenaikan harga produk plastik di pasaran akan terjadi. Kemungkinan besar, efeknya akan terasa setelah Idulfitri nanti. Dan kenaikannya, disebutkan, “dalam kisaran yang tidak sedikit.”

Fajar menegaskan, pasar sedang menuju titik keseimbangan baru. “Enggak mungkin harga kembali lagi seperti sebelum krisis perang ini,” ucapnya. Era harga murah untuk plastik, setidaknya untuk sementara, tampaknya akan berakhir.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar