Washington Lewat akun Truth Social-nya pada Minggu malam, Donald Trump mengirimkan ancaman yang gamblang. Presiden Amerika Serikat itu memberi peringatan keras: Selasa, 7 April 2026, bakal jadi hari yang kelam bagi Iran. Momentum itu, menurutnya, akan diisi dengan penghancuran besar-besaran terhadap infrastruktur energi dan transportasi negara tersebut.
“Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Belum pernah ada yang seperti ini!” tulis Trump.
Unggahan itu dirilis di tengah berkecamuknya perang gabungan AS dan Israel melawan Iran, yang sudah berjalan sejak akhir Februari lalu. Konflik ini, nyatanya, sudah memakan korban yang tidak sedikit. Lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Di sisi lain, Teheran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gempuran drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang diketahui menampung aset militer AS.
Namun begitu, ancaman terbaru Trump ini menandai sebuah pergeseran yang mengkhawatirkan. Target operasi militer AS sepertinya bergeser dari pangkalan pertahanan menuju infrastruktur sipil yang vital pembangkit listrik dan jembatan. Langkah semacam ini, jika benar-benar dijalankan, diprediksi bakal memperparah krisis kemanusiaan dan ekonomi di wilayah tersebut.
Trump punya satu tuntutan yang ia jadikan syarat. Ia menegaskan Teheran harus segera membuka kembali Selat Hormuz, jalur maritim yang jadi urat nadi ekspor energi global, jika ingin menghindari kehancuran total. Akses di selat itu saat ini dibatasi ketat oleh otoritas Iran sebagai bagian dari strategi pertahanan mereka, yang tentu saja memicu kemarahan Washington.
“Buka Selat Hormuz atau kalian akan hidup dalam 'neraka'. Lihat saja!” tegasnya lagi dalam postingan tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah memang sudah memuncak. Dan pernyataan Trump yang terang-terangan ini, seperti dilaporkan Anadolu pada Senin (6/4), hanya menambah suasana mencekam. Ancaman terhadap infrastruktur sipil strategis bukanlah hal sepele. Bisa dibilang, ini adalah eskalasi baru yang membawa konflik ke wilayah yang lebih berbahaya dan berisiko tinggi bagi penduduk sipil.
(Kelvin Yurcel)
Artikel Terkait
Relawan Indonesia Herman Budianto Ungkap Penyiksaan Brutal Tentara Israel saat Bajak Kapal Bantuan Gaza
Presiden Prabowo Tiba di Istana Elysee Paris, Disambut Menteri Pertahanan Prancis
Politisi Golkar Nilai Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Petugas Lebih Disiplin
Macron Puji Ketegasan Prabowo Perjuangkan Perdamaian dan Kedaulatan Palestina