Spanyol memastikan diri sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Argentina dengan skor tipis 1-0 di babak perpanjangan waktu. Gol tunggal dalam laga yang berlangsung selama 106 menit itu menjadi penentu di tengah rentetan 104 pertandingan yang digelar di 16 kota. Kekalahan ini memicu rumor besar di kubu Argentina: pelatih Lionel Scaloni mengisyaratkan akan mundur pada akhir tahun.
"Saya akan terus menjadi pelatih Argentina hingga Desember... setelah itu mungkin saya berhenti," ujar Scaloni. Keputusan itu muncul setelah ia merasa perlu mempertimbangkan masa depannya, usai membawa Argentina juara pada edisi 2022. "Saya akan berbicara dengan presiden federasi sepak bola," tambahnya.
Scaloni menegaskan butuh waktu pribadi untuk memikirkan kelanjutan karier. "Saya rasa wajar jika saya mengambil waktu ini untuk diri sendiri guna memikirkannya. Saya tidak pernah menyangka akan sampai di titik ini, dan ini luar biasa," katanya. Ia menyoroti besarnya tantangan jika harus membangun ulang skuad Argentina. "Untuk melanjutkan, Anda membutuhkan banyak hal: mereset pikiran, memulai lagi, menciptakan grup seperti ini lagi itu sangat sulit."
Masa Depan Messi Jadi Sorotan
Selain nasib Scaloni, keberlanjutan karier Lionel Messi di tim nasional juga menjadi perhatian. Usia sang kapten yang kini 39 tahun memicu spekulasi pensiun. Scaloni menegaskan keputusan itu sepenuhnya di tangan Messi. "Sudah jelas bagi saya bahwa dia akan bermain sampai dia memutuskan tidak," ujarnya.
Scaloni melayangkan pujian tinggi untuk Messi. "Saya harap semua orang bangga padanya, atas apa yang telah ia capai, karena dia adalah pemain sepak bola terbaik yang pernah menginjakkan kaki di lapangan. Saya tidak ragu tentang itu, dan apa yang dia lakukan selama Piala Dunia ini luar biasa. Juga apa yang dia lakukan sebelumnya."
Euforia Final di Chicago
Euforia final juga terasa di Chicago. Ribuan pendukung memadati Restoran Recess, West Loop, untuk nonton bareng. Area dalam ruangan penuh, membuat banyak orang terpaksa di luar. "Saya belum pernah melihat keramaian seperti ini untuk olahraga apa pun. Ini gila," kata Danna Aburmishan, warga Niles.
Wisatawan asing pun turut merasakan kemeriahan. "Luar biasa bisa datang ke sini dan melihat cuaca serta layar raksasa di sini, kami tidak akan mendapat ini di rumah," ujar Jack Kelly, wisatawan asal Irlandia. Pengelola restoran mengaku antusiasme sangat tinggi hingga kapasitas ruangan dipenuhi rombongan acara privat. "Mexico. Mexico datang dengan keras. Semoga Mexico menang tapi..." kata Maia Quintanilla, warga Burbank.
Keterbatasan tempat membuat sejumlah penonton tertahan di luar dan menyaksikan laga lewat ponsel. "Sebagian besar teman kami di dalam. Kami terlambat 10 menit, jadi mereka masuk dan kami tidak bisa masuk antrean, dan begitulah kami terjebak di sini selama lebih dari 90 menit," kata Shubham Das, warga Lincoln Park. Das menyebut siaran di ponselnya justru lebih cepat dari layar besar di dalam. "Kami mendapatkannya sebelum mereka, ya, internet kami bekerja jauh lebih cepat."
Para pendukung Chicago berharap kota mereka menjadi tuan rumah jika Piala Dunia kembali digelar di Amerika Utara. "Pada akhirnya, Chicago akan ada di edisi berikutnya, jika AS menjadi tuan rumah lagi, Chicago akan ikut," kata Rumsey Yasin, warga Pilsen. "Chicago adalah kota yang indah. Kami butuh pertandingan Piala Dunia," tambah Danna Aburmishan.
Artikel Terkait
Klaim Gavi Tuding Argentina Korupsi Usai Final Piala Dunia 2026 Ternyata Hoaks
Dari Desa Kecil ke Panggung Dunia: Kisah Pau Cubarsi, Bek Muda Spanyol yang Bersinar di Piala Dunia 2026
Belanda Raih Penghargaan Fair Play FIFA untuk Pertama Kalinya
FIFA Jual Potongan Rumput Lapangan Piala Dunia 2026 Seharga Rp54 Juta