Di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat, sejumlah warga di Provinsi Buenos Aires, Argentina, kembali mengaktifkan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi alternatif ketika pendapatan tidak lagi cukup untuk membeli barang-barang pokok.
Di Villa Astolfi, puluhan warga terlihat saling menukar pakaian, barang rumah tangga, hingga kebutuhan pokok tanpa menggunakan uang. Aktivitas ini digagas oleh Ana Barreto, yang menuturkan bahwa ide tersebut lahir dari pertemuan warga di Pilar, di mana banyak keluarga kesulitan memperoleh makanan.
"Idenya adalah membentuk ruang komunitas untuk bertukar barang karena dari pertemuan warga yang kami adakan di Pilar, kami melihat kebutuhan masyarakat. Banyak orang membutuhkan suatu cara untuk mendapatkan makanan," kata Barreto, Minggu (16/8).
Bahan makanan pokok seperti pasta, saus tomat, minyak, dan gula menjadi barang yang paling banyak dicari. Berdasarkan survei yang dilakukan komunitasnya, 77 persen keluarga mengaku tidak mampu membeli daging, produk susu, buah, dan sayuran karena kekurangan uang. "Dan itu berarti pola makan yang buruk," ujarnya.
Praktik barter ini mengingatkan pada krisis ekonomi Argentina tahun 2001, ketika masyarakat juga mengandalkan sistem serupa. Kini, para pensiunan mulai kembali menggunakannya. Yolanda, seorang pensiunan, mengatakan uang pensiunnya tidak cukup untuk membayar tagihan listrik dan gas.
"Saya melakukan ini karena uang pensiun yang saya terima benar-benar tidak cukup untuk apa pun. Tagihan listrik saya melonjak, begitu juga gas, TV kabel, semuanya. Jadi kami mulai lagi seperti pada 2001, ketika kami biasa melakukan ini," tutur Yolanda.
Kebutuhan pangan menjadi persoalan paling mendesak, sehingga sebagian warga bahkan menukarkan pakaian dan barang miliknya untuk memperoleh bahan makanan.
Ekonomi Argentina memang tertekan sejak 2023, diperparah oleh situasi politik menjelang pemilihan presiden. Sebulan sebelum pilpres, inflasi tahunan mencapai 143 persen. Saat itu, calon presiden Sergio Massa yang juga menjabat Menteri Keuangan menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) sebagai strategi kampanye. Kebijakan ini berdampak pada penerimaan pajak, karena hanya 88.000 wajib pajak orang pribadi yang tersisa, membebani kas negara.
Meski demikian, ekonomi Argentina mulai pulih. Data Institut Statistik dan Sensus Nasional Argentina (INDEC) menunjukkan PDB tumbuh 4,5 persen sepanjang 2025, dan berlanjut 2,3 persen pada kuartal I 2026. Inflasi sepanjang 2025 tercatat 31,5 persen, dengan inflasi Desember 2,8 persen secara bulanan.
Artikel Terkait
FIFA Jatuhkan Sanksi Berat untuk Pemain dan Federasi Argentina Usai Final Piala Dunia 2026
Chelsea Resmi Rekrut Valentin Barco dari Strasbourg
Enam Pemain Argentina Terancam Sanksi FIFA Jelang Piala Dunia 2030
FIFA Buka Penyelidikan Keributan Final Piala Dunia, Sejumlah Pemain Argentina dan Spanyol Terancam Sanksi