Menguak Tren Menstrual Masking: Inovasi atau Risiko Kesehatan?
Belakangan ini jagat maya dihebohkan dengan tren kecantikan yang cukup mengejutkan. Beberapa kreator konten dengan percaya diri mengoleskan darah menstruasi mereka ke wajah, mendokumentasikannya, lalu mengunggahnya untuk dilihat ribuan pasang mata. Mereka menyebutnya menstrual masking.
Klaim yang dilontarkan pun tak main-main. Katanya, darah haid punya khasiat regeneratif yang bisa mencerahkan kulit dan memperbaiki teksturnya. Bahkan, ada yang menyamakannya dengan perawatan high-end seperti vampire facial.
Namun begitu, praktik ini langsung memantik perdebatan sengit. Banyak yang geli, tak sedikit pula yang khawatir. Pasalnya, tren ini benar-benar belum lazim dan yang paling penting belum ada dasar penelitian medis yang mendukung.
Para pendukungnya berargumen bahwa darah menstruasi mengandung stem cell, sitokin, dan komponen biologis lain yang diyakini bisa merangsang peremajaan kulit. Mereka melihatnya sebagai alternatif alami dari facial PRP (platelet-rich plasma) yang sudah populer dan terbukti secara klinis.
Tapi, benarkah keduanya setara? Ternyata tidak.
Menurut para ahli, kesamaannya hanya di permukaan. Meski darah haid memang mengandung sel dan protein tertentu, menggunakan darah mentah secara langsung pada kulit adalah cerita yang sama sekali berbeda. Tanpa proses sterilisasi, risiko kontaminasi sangat besar.
Bayangkan saja, darah menstruasi berpotensi membawa bakteri, termasuk Staphylococcus aureus. Bakteri ini bisa dengan mudah masuk lewat pori-pori atau luka kecil di wajah, lalu memicu infeksi yang sulit diatasi.
Belum lagi, tidak ada aturan baku dalam praktik ini. Berapa banyak darah yang dipakai? Berapa lama harus didiamkan? Seberapa sering boleh dilakukan? Semuanya serba tidak jelas. Ini yang bikin para ahli angkat bicara.
Mereka menekankan perbedaan mendasar antara menstrual masking yang dilakukan sembarangan di rumah, dengan prosedur PRP yang dilakukan di klinik.
Dalam perawatan PRP, darah pasien diambil dengan steril, lalu diproses dengan alat khusus untuk memisahkan plasma. Semua tahapan diawasi tenaga medis dan mengikuti protokol ketat. Sangat berbeda dengan mengoleskan darah haid langsung dari pembalut ke wajah.
Intinya, para ahli bersikap tegas: menstrual masking tetap berisiko tinggi sampai ada bukti ilmiah yang jelas. Mereka mengimbau masyarakat untuk berpikir ulang sebelum ikut-ikutan. Infeksi kulit bukan hal sepele bisa berakibat serius dan butuh penanganan medis yang tak mudah.
Jadi, sebelum tergoda mencoba hanya karena katanya “alami” atau “hemat”, pertimbangkan baik-baik risikonya. Kulitmu cuma satu. Lebih baik rawat dengan cara yang sudah teruji, daripada jadi kelinci percobaan tren yang belum jelas juntrungnya.
Artikel Terkait
Rizky Billar Tempuh Jalur Hukum Lawan Tuduhan di Media Sosial
Amanda Manopo Ucapkan Terima Kasih kepada Penggemar Usai Lahirkan Putra Pertama
Wardatina Mawa Jaga Jarak dari Pria yang Mendekat, Fokus Selesaikan Proses Perceraian
Ahli: Anak Perlu Minum Susu Hingga Remaja untuk Optimalisasi Pertumbuhan Tulang