"Anehnya waktu pendataan saya dikasih masuk desil 5, terus rumah yang mewah-mewah di tetangganya saya, yang punya mobil ini yang dikasih masuk desil 1,"
keluhnya. Kritik ini disampaikannya dengan harapan ada perbaikan sistem ke depannya.
Rutinitasnya memang melelahkan. Dari pukul sepuluh pagi, tangannya tak berhenti bekerja, seringkali hingga pukul delapan atau sembilan malam. Tapi semua itu dijalaninya dengan lapang dada. "Ya capek juga, tapi namanya kita cari uang. Namanya kita cari uang ya harus berjuang kan gitu," ucap Kristina sambil tertawa kecil. "Daripada duduk-duduk di rumah, ngelamun bikin sakit badan."
Di akhir percakapan, ia kembali menegaskan betapa program ini telah menjadi penopang hidup keluarganya. Rasa terima kasihnya tak hanya untuk makanan bergizi yang dibagikan, tapi juga untuk peluang kerja yang diberikan.
"Adanya MBG, sangat membantu sekali dalam rumah tangganya kami. Sekali lagi saya terima kasih kepada Bapak Presiden, Prabowo Subianto yang melakukan program ini ke depannya. Mudah-mudahan akan lebih maju dan lebih baik lagi,"
imbuhnya penuh harap. Untuk Kristina, setiap ompreng bersih yang ia hasilkan bukan sekadar tugas, melainkan sebuah langkah menuju kehidupan yang lebih layak.
Artikel Terkait
Macron Tolak Opsi Militer di Selat Hormuz, Desak Negosiasi dengan Iran
Mendagri Tegaskan WFH Jumat Bukan Libur, ASN Wajib Aktifkan Pelacak Lokasi
368 Pendatang Baru Masuk Jakarta Timur Pascalebaran 2026
Kepatuhan LHKPN 2025 Capai 96,24%, Legislatif Masih Tertinggal