TEGAL – Harga kedelai impor melonjak, dan para perajin tahu di sini merasakan dampaknya langsung. Perang di Timur Tengah, yang mungkin terasa jauh, ternyata berimbas hingga ke dapur-dapur produksi di Kota dan Kabupaten Tegal. Mau tak mau, mereka harus mencari cara agar usahanya tetap bertahan.
Strateginya? Memangkas ukuran tahu. Itu pilihan pahit, tapi dianggap paling masuk akal. Berbeda dengan tempe yang bahannya bisa dicampur atau disiasati, tahu murni mengandalkan sari pati kedelai. Jadi, ketika harga bahan baku utama itu naik, hampir tidak ada ruang untuk berkompromi.
“Kalau ukuran tidak dikurangi, kami rugi bandar,” ujar Budiyanto, seorang perajin di Kelurahan Slerok, Tegal Timur.
“Mau menaikkan harga jual ke pasar juga susah, pembeli pasti protes. Jadi terpaksa ukurannya diperkecil sedikit,” tambahnya, Kamis lalu.
Artikel Terkait
PSM Makassar Siapkan 5.193 Tiket Online untuk Duel Sengit Kontra Persis Solo
Selebrasi Ole Romeny Viral, Jadi Inspirasi dan Sorotan Publik
Pemuda Pencuri Kabel Tersengat 20.000 Volt di Gardu Listrik Jambi
KNVB Nyatakan Dokumen Maarten Paes Sah, Polemik Paspoortgate Berakhir