Perajin Tegal Pangkas Ukuran Tahu Imbas Harga Kedelai Impor Melonjak

- Jumat, 03 April 2026 | 04:00 WIB
Perajin Tegal Pangkas Ukuran Tahu Imbas Harga Kedelai Impor Melonjak

TEGAL – Harga kedelai impor melonjak, dan para perajin tahu di sini merasakan dampaknya langsung. Perang di Timur Tengah, yang mungkin terasa jauh, ternyata berimbas hingga ke dapur-dapur produksi di Kota dan Kabupaten Tegal. Mau tak mau, mereka harus mencari cara agar usahanya tetap bertahan.

Strateginya? Memangkas ukuran tahu. Itu pilihan pahit, tapi dianggap paling masuk akal. Berbeda dengan tempe yang bahannya bisa dicampur atau disiasati, tahu murni mengandalkan sari pati kedelai. Jadi, ketika harga bahan baku utama itu naik, hampir tidak ada ruang untuk berkompromi.

“Kalau ukuran tidak dikurangi, kami rugi bandar,” ujar Budiyanto, seorang perajin di Kelurahan Slerok, Tegal Timur.

“Mau menaikkan harga jual ke pasar juga susah, pembeli pasti protes. Jadi terpaksa ukurannya diperkecil sedikit,” tambahnya, Kamis lalu.

Kenaikan harganya sendiri cukup drastis. Menurut Budiyanto, sebelumnya kedelai impor asal Amerika Serikat masih di angka Rp8.600 per kilogram. Kini, harganya sudah melesat ke Rp10.100 per kilo. Lonjakan yang terjadi dalam waktu singkat ini benar-benar memukul.

Dan situasinya belum akan membaik. Dengan konflik di Timur Tengah yang masih berkecamuk, prediksi harga kedelai justru akan terus naik. Ini ancaman serius bagi usaha mikro yang sudah bertahun-tahun jadi tulang punggung ekonomi lokal.

Di sisi lain, ketergantungan pada kedelai impor membuat para perajin sangat rentan. Gejolak politik internasional, yang seringkali di luar kendali mereka, langsung terasa di kantong. Kalau harga terus merangkak naik, kekhawatiran terbesarnya adalah banyak dari mereka yang akhirnya tak sanggup lagi berproduksi.

Harapan mereka sederhana: konflik segera berakhir agar rantai pasokan dan harga komoditas global stabil. Sambil menunggu, mereka berharap pemerintah bisa turun tangan. Entah dengan memberikan solusi konkret atau bantuan subsidi, agar usaha rakyat seperti ini bisa melewati badai krisis yang datangnya tiba-tiba ini.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar