Dapur itu panas dan ramai. Tapi bagi Kristina Lende, suara gemerincing ompreng yang dicucinya terdengar seperti musik. Sejak terlibat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pekerja di SPPG Watukaula, Sumba Barat Daya, hidupnya berubah drastis. Dan perubahan itu bukan cuma dirasakan oleh para siswa atau ibu hamil yang menerima paket gizi, melainkan juga oleh warga seperti Kristina yang menjalankan program di lapangan.
Dulu, sebelum dapat pekerjaan ini, keadaan benar-benar sulit. Penghasilan satu-satunya keluarga cuma mengandalkan suaminya yang kerja di perusahaan telasi, dengan upah harian sekitar Rp50 ribu. Untuk beli beras sekilo saja, Kristina harus berpikir panjang. Bantuan sosial dari pemerintah? Sama sekali tidak pernah diterimanya.
"Semenjak saya kerja di MBG, saya sudah bisa beli beras 20 kilo, bahkan 50 kilo pun sudah bisa saya beli," ujarnya, ditemui di tempat kerjanya suatu Jumat siang.
Wajahnya sumringah ketika bercerita lebih lanjut. "Buat lauk-lauk anak-anak saya di rumah, dan buku penanya anak-anak saya di rumah, sudah bisa."
Pencapaian terbesarnya bahkan lebih nyata: sebuah sepeda motor yang dibelinya tanggal 8 Februari lalu, murni dari hasil keringatnya mencuci ratusan wadah makanan setiap hari. Motor itu sekarang mempermudah segalanya, termasuk mengantar anaknya yang dulu harus berjalan kaki ke sekolah. Kristina punya tiga anak. Yang sulung, kini duduk di kelas VII SMP, sudah menerima manfaat MBG. Dua adiknya yang masih SD, katanya, akan segera menyusul.
Namun begitu, di balik rasa syukur yang besar, ada sedikit ganjalan di hati Kristina. Ia berharap pemerintah lebih jeli lagi dalam pendataan bantuan sosial. Menurut pengamatannya, kondisi riil di lapangan kerap tak sesuai dengan data yang masuk.
"Anehnya waktu pendataan saya dikasih masuk desil 5, terus rumah yang mewah-mewah di tetangganya saya, yang punya mobil ini yang dikasih masuk desil 1,"
keluhnya. Kritik ini disampaikannya dengan harapan ada perbaikan sistem ke depannya.
Rutinitasnya memang melelahkan. Dari pukul sepuluh pagi, tangannya tak berhenti bekerja, seringkali hingga pukul delapan atau sembilan malam. Tapi semua itu dijalaninya dengan lapang dada. "Ya capek juga, tapi namanya kita cari uang. Namanya kita cari uang ya harus berjuang kan gitu," ucap Kristina sambil tertawa kecil. "Daripada duduk-duduk di rumah, ngelamun bikin sakit badan."
Di akhir percakapan, ia kembali menegaskan betapa program ini telah menjadi penopang hidup keluarganya. Rasa terima kasihnya tak hanya untuk makanan bergizi yang dibagikan, tapi juga untuk peluang kerja yang diberikan.
"Adanya MBG, sangat membantu sekali dalam rumah tangganya kami. Sekali lagi saya terima kasih kepada Bapak Presiden, Prabowo Subianto yang melakukan program ini ke depannya. Mudah-mudahan akan lebih maju dan lebih baik lagi,"
imbuhnya penuh harap. Untuk Kristina, setiap ompreng bersih yang ia hasilkan bukan sekadar tugas, melainkan sebuah langkah menuju kehidupan yang lebih layak.
Artikel Terkait
Ketua Komisi III DPR Dukung Tegasnya Polri Tangani Eks Kapolres Bima Terkait Narkoba
Harga Patokan Ekspor Tembaga dan Emas Naik, Menyusul Tren Global
Tingkat Pengangguran Turun ke 4,85%, Namun Separuh Pekerja Alami Ketidaksesuaian Pekerjaan
Disney Tuduh TikTok Latih AI dengan Konten Marvel dan Star Wars Tanpa Izin