Bagi banyak orang, Tahun Baru Imlek mungkin hanya tampak sebagai perayaan penuh warna dan suka cita. Tapi sebenarnya, di balik gemerlap lampion dan bagi-bagi angpao, tersimpan narasi sejarah yang panjang dan berliku. Kisahnya melintasi zaman, dari dataran Tiongkok kuno hingga akhirnya menemukan rumahnya di Nusantara.
Bukan Cuma Pesta: Akar-Akar yang Menghujam ke Masa Lalu
Asal-usul Imlek itu sederhana dan bersahaja. Ia berawal dari sebuah festival agraris di Tiongkok kuno. Bayangkan saja, sebuah perayaan untuk menyambut musim semi setelah musim dingin yang keras. Saat itu, warga berkumpul untuk bersyukur atas panen yang telah diraih, sambil berharap tahun depan tanah akan kembali memberi hasil yang melimpah.
Nah, dari sanalah kemudian muncul berbagai legenda. Yang paling melekat tentu saja cerita soal monster Nian.
Si Monster dan Asal-Usul Tradisi Merah
Konon, di akhir setiap musim dingin, makhluk bernama Nian ini keluar dari persembunyiannya dan meneror desa-desa. Warga pun ketakutan. Namun, mereka akhirnya menemukan kelemahan sang monster: Nian ternyata takut pada warna merah, suara bising yang memekakkan, dan cahaya api. Dari situlah tradisi memasang dekorasi merah, menyalakan petasan, dan menggantung lampion berawal. Sebuah cara cerdas nenek moyang untuk mengusir malapetaka.
Seiring waktu, perayaan ini pun berevolusi. Baru pada masa Dinasti Han, tepatnya di era Kaisar Han Wudi, Imlek mulai mendapat bentuk yang lebih terstruktur. Kalender lunar ditetapkan, dengan bulan pertama sebagai awal tahun baru. Ritual penghormatan kepada leluhur juga mulai diintegrasikan ke dalam upacara resmi kerajaan.
Dari Istana Turun ke Jalanan
Kalau di era Han masih terasa kaku dan seremonial, lain ceritanya saat Dinasti Tang dan Song berkuasa. Di periode inilah Imlek benar-benar menjelma jadi festival rakyat. Nuansa istana memudar, digantikan oleh gegap gempita di jalan-jalan. Tradisi saling mengunjungi sanak keluarga, berbagai permainan rakyat, hingga pertunjukan seni menjadi jantung perayaannya. Imlek akhirnya menjadi milik semua orang.
Lalu, Bagaimana Jejaknya di Indonesia?
Narasi Imlek di tanah air tak kalah menarik. Awal kedatangannya dibawa oleh para imigran Tionghoa yang merantau ke Nusantara. Mereka membawa tradisi dari kampung halaman, yang perlahan-lahan berakulturasi dan melebur dengan budaya lokal di berbagai Pecinan.
Pada masa-masa awal kemerdekaan, suasana terbilang kondusif. Masyarakat Tionghoa bebas merayakan hari rayanya. Pemerintah bahkan mengukuhkannya sebagai salah satu hari raya keagamaan melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2 tahun 1946. Sebuah pengakuan yang cukup berarti.
Namun begitu, angin berubah di masa Orde Baru.
Era Kelam dan Pembatasan
Kebijakan Inpres No. 14 tahun 1967 menjadi titik balik. Ekspresi budaya Tionghoa, termasuk perayaan Imlek, dibatasi dan hanya boleh dilakukan secara tertutup, dalam lingkup privat keluarga. Untuk puluhan tahun, kemeriahan Imlek seolah meredup dari ruang publik.
Keadaan baru membaik pasca reformasi. Sebuah langkah berani diambil.
Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, mencabut larangan itu pada tahun 2000. Keputusannya membuka kembali keran kebebasan berekspresi. Lalu, pengakuan itu semakin kuat di era Presiden Megawati Soekarnoputri.
Pada 2003, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional. Keputusan ini bukan sekadar hari libur biasa, melainkan simbol pengakuan penuh negara terhadap keberagaman budaya yang membentuk Indonesia.
Inti Perayaan yang Tak Pernah Luntur
Melintasi semua fase sejarah itu, beberapa tradisi inti Imlek tetap bertahan, sarat makna. Ambil contoh angpao. Amplop merah itu bukan sekadar uang, tapi doa dan simbol berbagi rezeki dari generasi tua ke muda. Begitu pula dengan hidangan. Kue keranjang melambangkan ikatan dan persatuan keluarga, sementara ikan di meja makan adalah simbol harapan akan kelimpahan yang tak putus.
Ritual membersihkan rumah sebelum hari H juga punya filosofi mendalam. Aktivitas itu dimaknai sebagai usaha membuang energi-energi buruk tahun lalu, menyiapkan tempat bagi keberuntungan dan hal-hal baru yang lebih baik.
Jadi, sejarah panjang Imlek ini sebenarnya adalah cerita tentang ketahanan. Sebuah tradisi yang mampu beradaptasi, bertahan, dan akhirnya diakui. Dari legenda monster di pedesaan Tiongkok hingga pengesahan di istana negara Republik Indonesia, Imlek kini telah menjadi lebih dari sekadar tahun baru. Ia adalah simbol harapan, persatuan, dan tentu saja, bukti nyata bahwa keragaman adalah kekuatan.
Artikel Terkait
Ketua Komisi III DPR Dukung Penetapan Tersangka Mantan Kapolres Bima Kasus Narkoba
Polrestabes Makassar Kerahkan 300 Personel Amankan Imlek dan Ramadan, Larang Sahur on The Road
APPI Periode 2026-2031 Dilantik, Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintah Tingkatkan Pendidikan
Bus Wisata Tabrak Truk di Tol Cipali, Sopir Tewas dan 28 Penumpang Luka-luka