JAKARTA Kementerian Agama bakal menggelar sidang isbat untuk menentukan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah, atau tahun 2026 Masehi. Ini jadi momen penting setiap tahunnya. Soalnya, di tengah masyarakat ada beragam pendapat dari ormas-ormas Islam soal penentuan awal bulan. Nah, sidang inilah yang nantinya coba memberikan satu keputusan nasional, sebuah kepastian yang dinanti-nanti.
Intinya, sidang isbat adalah upaya pemerintah. Tujuannya jelas: mempersatukan umat sebisa mungkin, dengan dasar pemahaman bersama bahwa perbedaan itu wajar asal dikelola dengan baik. Namun begitu, sidang ini bukan tempat untuk debat teknis yang mendalam. Lebih ke arah menampung berbagai pendapat, yang kemudian jadi bahan pertimbangan Menteri Agama sebelum mengambil keputusan final.
Kalau mau tahu, sidang semacam ini sudah berjalan cukup lama. Secara resmi, dimulai sejak 1962 dan hampir semua putusannya terdokumentasi rapi dalam bentuk Surat Keputusan Menteri. Dalam sidang itu, data hisab atau perhitungan astronomi dikaji bareng dengan laporan rukyat atau pengamatan hilal dari lapangan. Dari sanalah kemudian diambil satu kesimpulan.
Lalu, kapan sidangnya digelar? Rencananya, Selasa, 17 Februari 2026. Bertempat di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag, Jakarta Pusat. Menteri Agama Nasaruddin Umar sendiri yang akan memimpin jalannya sidang.
Menurut Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, sidang ini bakal dihadiri banyak pihak. Mulai dari perwakilan ormas Islam, kedutaan negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, hingga perwakilan DPR dan Mahkamah Agung.
"Sidang Isbat akan dihadiri oleh sejumlah pihak, perwakilan ormas Islam, perwakilan kedubes negara-negara Islam, MUI, BMKG, ahli falak, DPR dan perwakilan Mahkamah Agung," kata Abu, dikutip Minggu (15/2/2026).
Soal prosesnya, Abu memaparkan ada tiga tahap utama. Pertama, pemaparan data posisi hilal berdasarkan kalkulasi astronomi. Kedua, verifikasi hasil rukyatul hilal yang datang dari puluhan titik pemantauan di seluruh Indonesia.
"Selanjutnya, musyawarah dan pengambilan keputusan yang diumumkan kepada masyarakat," ujarnya.
Kemenag sendiri selalu mengintegrasikan dua metode: hisab dan rukyah. Abu pun mengajak masyarakat untuk bersabar menunggu hasil sidang. Sikap ini sejalan dengan fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004. Intinya, pemerintah ingin ada kesatuan dalam memulai ibadah puasa dan merayakan hari raya.
Nah, untuk pengamatan hilal, pemantauan akan dilakukan di banyak lokasi. Jumlahnya puluhan, tersebar dari Aceh sampai Papua. Beberapa titik pemantauan yang akan digunakan antara lain Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang di Aceh, Pantai Tanjung Tinggi di Belitung, Monas di Jakarta, Planetarium UIN Walisongo Semarang, Pantai Anyer di Banten, Menara Masjid Agung Nurul Kalam di Pemalang, Bukit Brambang di Gunungkidul, Pantai Srau di Pacitan, Menara Mercusuar di Jember, Islamic Center Samarinda, Pantai Sekeh di Bali, Unismuh Makassar, hingga Pantai Masni di Manokwari, Papua Barat.
Dengan begitu banyak titik pengamatan, diharapkan data yang masuk bisa komprehensif. Pada akhirnya, semua proses ini bermuara pada satu pengumuman: kapan umat Islam di Indonesia secara resmi memulai ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Artikel Terkait
Jennifer Coppen Pilih Tak Tanggapi Sindiran Pedas Connell Twins
Kemensos Paparkan Mekanisme Reaktivasi bagi Peserta PBI-JKN yang Dinonaktifkan
Sidang Isbat 17 Februari Tetapkan Awal Puasa Ramadhan 2026
Sule Bawa Kejutan dan Candaan Warisan di Konser Comeback Mahalini