Macron Tolak Opsi Militer di Selat Hormuz, Desak Negosiasi dengan Iran

- Jumat, 03 April 2026 | 03:15 WIB
Macron Tolak Opsi Militer di Selat Hormuz, Desak Negosiasi dengan Iran

SEOUL Di tengah ketegangan yang terus memanas di Teluk, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyuarakan penolakannya yang tegas terhadap penggunaan kekuatan militer untuk membuka Selat Hormuz. Saat berkunjung ke Korea Selatan, Kamis lalu, ia justru menekankan bahwa jalan satu-satunya adalah dengan berunding langsung dengan Iran. Pendekatan ini jelas berseberangan dengan seruan Presiden AS Donald Trump yang mendorong intervensi militer.

“Yang kami sampaikan sejak awal adalah selat ini harus dibuka kembali,” ujar Macron.

Alasannya jelas: selat itu merupakan urat nadi strategis untuk pasokan energi, pupuk, dan perdagangan global. “Tapi itu hanya bisa dilakukan dengan berkonsultasi dengan Iran,” tegasnya.

Menurut sejumlah saksi, nada suaranya terdengar lugas dan tanpa keraguan.

Macron tak tanggung-tanggung menyebut opsi militer sebagai langkah yang tidak realistis dan penuh risiko. Bayangkan saja, operasi semacam itu akan memakan waktu sangat lama. Lebih dari itu, setiap kapal yang melintas akan jadi sasaran empuk, berhadapan langsung dengan ancaman Garda Revolusi Iran dan rudal balistik mereka. Situasinya bisa berubah jadi mimpi buruk bagi semua pihak.

Di sisi lain, pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban atas dorongan Trump yang meminta sekutu NATO, termasuk Prancis, untuk mengerahkan kapal perang. Beberapa pihak memang mendukung pembebasan paksa selat itu lewat operasi militer sebuah sikap yang, meski bervariasi, kerap diungkapkan oleh Amerika Serikat.

Namun begitu, Prancis punya pendirian berbeda.

“Kami tidak pernah mendukung opsi militer tersebut,” kata Macron. Baginya, ide itu sama sekali tidak masuk akal. Stabilitas di kawasan yang sudah seperti bom waktu ini, menurutnya, cuma punya satu jalan keluar: diplomasi. Bukan senjata.

Nada editorialnya jelas: Macron memilih meja perundingan, bukan konfrontasi. Di panggung internasional yang sedang panas ini, pilihannya itu ibarat mengajak semua pihak untuk menarik napas sejenak dan berpikir ulang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar