IHSG Terjun Bebas 2,12 Persen ke 6.184, Tertekan Suku Bunga BI dan Arus Keluar Modal Asing

- Kamis, 21 Mei 2026 | 11:00 WIB
IHSG Terjun Bebas 2,12 Persen ke 6.184, Tertekan Suku Bunga BI dan Arus Keluar Modal Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis (21/5/2026), tertekan oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah, arus keluar dana asing akibat penyesuaian portofolio indeks MSCI dan FTSE, serta respons pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan arah kebijakan fiskal pemerintah menjadi faktor utama yang membebani pergerakan bursa saham domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.28 WIB, IHSG terkoreksi sebesar 2,12 persen ke level 6.184,78. Posisi ini mendekati level terendah yang tercatat sejak April 2025. Nilai transaksi pada sesi tersebut mencapai Rp6,66 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 12,30 miliar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 558 saham bergerak melemah, 167 saham menguat, dan 234 saham lainnya stagnan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa pergerakan indeks yang kini berada di bawah garis moving average 200 hari (MA-200) menjadi sinyal kuat bahwa tren bearish masih mendominasi pasar saham domestik. Tekanan jual juga tercermin dari indikator MACD yang kembali melemah, menandakan momentum penurunan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Dalam analisisnya, BRI Danareksa menyebut area resistance IHSG berada di level 6.635, sementara support terdekat diperkirakan di 6.220. Jika tekanan berlanjut, pasar juga mencermati area gap di level 6.100 hingga major support di kisaran 5.900 sebagai titik penting berikutnya.

Sementara itu, dari sisi sentimen domestik, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen memicu kekhawatiran terhadap likuiditas dan meningkatnya biaya modal (cost of capital) di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Pelemahan saham-saham milik Grup Barito besutan Prajogo Pangestu, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Barito Pacific Tbk (BREN), turut menjadi pemberat utama IHSG dalam beberapa perdagangan terakhir.

Di sisi lain, sentimen global juga belum kondusif. Risalah rapat Federal Reserve (FOMC) menunjukkan bank sentral Amerika Serikat masih mempertahankan sikap hawkish seiring meningkatnya risiko inflasi akibat konflik Iran. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Rupiah yang masih bergerak di kisaran Rp17.600 per dolar AS turut menambah kekhawatiran investor terhadap potensi arus keluar modal (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar